Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Ilustrasi Percintaan Terindah di Surga
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Ilustrasi Percintaan Terindah di Surga

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc

» إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ , هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلالٍ عَلَى الأرَائِكِ مُتَّكِئُونَ , لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ , سَلامٌ قَوْلا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ «

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.” (QS. Yasin: 55-58).

Saudaraku,
Apapun perbuatan yang kita ukir dalam hidup pasti akan kita menuai hasilnya di akherat sana. Perilaku terpuji, amalan baik, keshalihan pribadi dan kepribadian memikat, akan mendapatkan balasan pahala terbaik dari Allah Ta’ala sebagai wujud karunia, kemuliaan dan rahmat-Nya.

Sebaliknya, berbuat keburukan, amalan tercela, kepribadian yang menyesakkan dada dan warna kerusakan yang kita ukir dalam hidup, membuahkan balasan yang memilukan, melukai perasaan, membakar dan menghanguskan anggota badan serta siksa yang tiada berkesudahan.

Saudaraku,
Sudah menjadi aksima bahwa salah satu kebutuhan manusia yang sangat esensi adalah menyalurkan hasrat biologis. Bahkan kebutuhan yang satu ini melebihi kebutuhan kita terhadap pangan, sandang, dan papan. Seorang suami bila kebutuhan biologisnya terpuaskan, maka wajahnya tampak sumringah, cerah bagaikan mentari pagi. Bekerja penuh vitalitas dan semangat serta mesam-mesem sepanjang hari.

Demikian pula seorang istri, bila kebutuhan bathin terpenuhi, maka ia sigap menyelesaikan tugas rumah tangga seperti menyiapkan masakan kesukaan suami dan makanan ringan anak-anaknya, membereskan mainan anak-anak dan seterusnya. Wajahnya menjadi sebening embun, gerak geriknya menggemaskan, tergerak untuk merias dirinya secantik mungkin di hadapan suaminya.

Abu Bakar al-Razi pernah bertutur, “Aku pernah melihat sekelompok orang yang lama tidak berhubungan intim, maka tubuh mereka menjadi dingin, gerak tubuh mereka menjadi sulit dan mereka mengalami kesedihan tanpa sebab serta nafsu makan menjadi hilang.”

Al-Ghazali menyebutkan, “Gairah (kenikmatan) seksual dikuasakan bagi manusia karena dua manfaat.

Pertama; agar manusia mengetahui kenikmatan hubungan intim dan agar kita dapat membandingkannya dengan kenikmatan (terkecil) di akherat. Karena kenikmatan hubungan badan merupakan kenikmatan fisik yang sangat kuat sebagaimana jika tidak tersalurkan dengan baik, menyebabkan penderitaan tak terperi.

Kedua; untuk melestarikan keturunan.”

Maraknya perselingkuhan dan perzinaan di negeri kita, walaupun dengan kosa kata yang disamarkan, seperti; memiliki WIL (wanita idaman lain), mempunyai PIL (pria idaman lain), TTM (teman tapi mesra) dan seterusnya tapi substansinya sama; mengecap kenikmatan hubungan intim yang tidak sah dan terlarang.

Saudaraku,
Ungkapan syekh al-Ghazali di atas sangat tajam dan mengena. Wajar, jika orang yang hidup melajang, sangat sulit membayangkan keindahan hidup dan warna kenikmatan yang Allah Ta’ala sediakan di surga. Bukankah setiap kali Allah menyebut surga dalam al Qur’an, tak pernah sepi dari penyebutan bidadari yang cantik jelita. Pertanyaan yang muncul di benak kita adalah apakah para bidadari itu hanya sekadar untuk dipandang saja? Tentu saja tidak. Tapi mereka tercipta untuk menyempurnakan kenikmatan lain di surga. Seperti kita menikmati cumbu rayu yang syahdu sampai hubungan intim yang mengesankan bersama istri-istri kita di dunia.

Walaupun keindahan dan kenikmatan di akherat tak terukur dan tiada sebanding dengan keindahan dan kenikmatan hidup di dunia. Mereka adalah istri-istri bagi penghuni surga. Itulah kesempurnaaan hidup di akherat.

Ibnu Abbas r.a berkata, “Tiada kesamaan antara kenikmatan dunia dan surga melainkan hanya sekadar kesamaan nama saja.”

Ibnul Qayyim berkata, “Di dalam pernikahan ada kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan. Juga ada pahala sedekah, mengalirkan ketenangan, melenyapkan pikiran kotor, menyehatkan dan menolak segala keinginan yang menyimpang. Jika kasih sayang dan keinginan bertemu, maka hal itu akan mengalirkan suatu kenikmatan. Di mana kenikmatan itu tidak akan sempurna jika hanya didapat dengan memandangnya saja, tanpa menyentuh bagian-bagian tubuh lainnya secara keseluruhan. Kenikmatan mata adalah dengan memandang sang kekasih. Kenikmatan telinga diraih dengan mendengar suaranya yang merdu. Kenikmatan hidung tercipta dengan mencium aromanya yang wangi. Kenikmatan mulut terwujud dengan menciumnya. Kenikmatan tangan terjadi dengan meraba. Demikian pula dengan bagian tubuh yang lain. Jika belum tercapai, maka jiwa akan terus memburu dan mencari. Jiwa akan gelisah. Oleh karenanya wanita dinamai penenang (penenteram) disebabkan jiwa merasa tenang jika berdekatan dengannya.”

Saudaraku,
Mengenang kenikmatan tiada tara yang kita rasakan ketika berhubungan intim dengan pasangan hidup kita, membantu kita untuk membayangkan kenikmatan hidup di akherat, yaitu kenikmatan yang disukai dan diridha’i Allah Ta’ala. Kenikmatan tersebut kita rasakan dari dua sisi:

Pertama, perasaan bahagia karena hadirnya sang istri di sisi kita.
Kedua; sampainya kita kepada ridha Allah Ta’ala dan kenikmatan yang sempurna.

Saudaraku,
Menyalurkan hasrat biologis, merupakan kebutuhan yang sangat kuat tertancap dalam jiwa manusia. Terlebih bagi mereka yang imannya setipis kulit ari.

Di Jambi ada seorang ibu yang sudah menjanda sekian tahun. Karena tak kuat menahan gejolak seksualnya, akhirnya ia menjalin hubungan terlarang dengan anaknya sendiri yang berusia 16 tahun. Dan dari hubungan yang berlumur dosa itu akhirnya menghasilkan seorang anak laki-laki.

Di daerah Jawa, ada seorang ayah yang menggauli menantunnya sendiri berulang kali disertai dengan ancaman.

Belum lagi kisah kekerasan seksual (pemerkosaan) banyak menghiasi media, baik media masa maupun media kaca. Dan begitulah seterusnya. Bahkan mungkin ada di sekitar kita. Di lingkungan kita.

Saudaraku,
Sejarah telah mencatat bahwa pertumpahan darah yang pertama terjadi di muka bumi, penyulutnya adalah tuntutan biologis. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan:

“Anak-anak Adam lahir dalam keadaan kembar. Laki-laki dan perempuan. Di antara laki-laki yang memiliki kembaran lain jenis adalah Qabil dan Habil. Qabil seorang petani sedangkan Habil adalah seorang peternak. Ketentuan Allah Ta’ala, keduanya dikawinkan secara bersilang. Yakni Habil dikawinkan dengan kembaran Qabil dan begitu sebaliknya. Tetapi Qabil menolak ketetapan Ilahi ini, karena kembaran Habil tidak berparas cantik. Ia berkata kepada Habil, “Ia adalah kembaranku. Dan ia lebih cantik dari kembaranmu. Karenanya aku lebih berhak untuk mengawini kembaranku.” Dan begitulah sampai akhirnya Qabil membunuh saudaranya Habil.

Sunguh indah Allah Ta’ala membahasakan kebutuhan biologis itu dengan bahasa yang teramat halus, sebagaimana firman-Nya, “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diingininya; kepada wanita, anak-anak, harta benda yang berlimpah dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14).

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menjadikan kaum hawa sebagai puncak segala keinginan kaum laki-laki.

Seorang perempuan shalihah pernah berkata, “Dari seluruh beban berat yang dipikul kaum wanita (seperti hamil, melahirkan, haid, nifas dll), maka Allah Ta’ala memuliakan kaum wanita dengan mendahulukan penyebutannya dari segala hal yang menjadi keinginan kaum laki-laki.”

Saudaraku,
Mari kita simak ilustrasi kehidupan biologis di surga, yang telah disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Lalu kita bandingkan dengan kenikmatan yang kita kecap di dunia fana ini.

Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin di surga akan dibangunkan sebuah khemah dari permata yang berongga. Tingginya mencapai 30 mil. Di dalamnya terdapat istri-istrinya dan ia berjalan mengelilingi mereka.” (HR. Bukhari).

“Seorang mukmin di surga nanti akan diberi kekuatan sekian banyak dalam hal berhubungan intim.” Anas berkata, “Apakah ia mampu melakukannya wahai Rasulullah?.” Beliau menjawab, “Tentu, ia akan diberi 100 kali kekuatan seorang laki-laki (di dunia).” (HR. Tirmidzi).

Abu Hurairah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah nanti di akherat kita mampu menggauli istri-istri kita?.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya di surga seorang laki-laki (suami) sanggup menggauli seratus bidadari dalam sehari.” (HR. Thabrani).

Luqaith al-Uqaili pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di surga nanti kita mempunyai istri-istri yang shalihah?.” Beliau menjawab, “Bagi mereka yang shalih akan dinikahkan dengan istri yang shalihah. Mereka merasakan kenikmatan melakukan hubungan seksual dengan istri-istrinya sebagaimana kalian menikmatinya di dunia, dan istri-istri kalian juga merasakan kenikmatan hubungan seksual, hanya saja mereka tidak mengalami kehamilan.” (HR. Thabrani).

Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di surga nanti kita melakukan hubungan suami istri?.” Beliau menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kita mampu bersetubuh berulang kali di surga nanti. Jika seorang bersetubuh dengan istrinya kemudian ia beranjak darinya, maka sang istri akan menjadi perawan lagi.” (HR. Ibnu Hiban).

Rasulullah bersabda, “Sungguh penduduk surga itu jika selesai menggauli istri-istrinya, maka mereka akan kembali perawan.” (HR. Thabrani).

Dari Abu Umamah r.a diceritakan, bahwa Nabi s.a.w pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah penduduk surga itu melakukan hubungan suami istri?.” Beliau menjawab, “Mereka akan melakukannya dengan istri-istri yang cantik sedang sempurna dan syahwat yang tak pernah padam serta hubungan intim yang berulang-ulang.” (HR. Thabrani).

Dari Abu Umamah r.a, Rasulullah s.a.w pernah ditanya, “Apakah penghuni surga bisa melakukan hubungan suami istri?.” Beliau menjawab, “Demi Dzat Yang mengutusku dengan kebenaran, mereka mampu melakukannya berulang kali sambil memberi isyarat dengan tangannya. Namun dalam hubungan itu tidak ada sperma dan tidak ada pula kematian.” (HR. Abu Nu’aim).

Saudaraku,
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka.” (QS. Yasin: 55).

Ibnu Abbas r.a mengomentari ayat ini, “Mereka sibuk bersenang-senang dengan gadis-gadis yang perawanan lagi muda.”

Sa’id bin Jubair berkata, “Sesungguhnya nafsu syahwat mereka mengalir dalam tubuhnya selama tujuh puluh tahun. Selama jangka waktu itu mereka merasakan kenikmatan yang tiada taranya dan tidak terbebani mandi jenabat. Mereka tidak pernah loyo atau kekuatannya menurun. Justru hubungan seksual mereka mencapai puncak kenikmatan dan kepuasan. Tidak ada yang dapat mengurangi kenikmatan hubungan seksual mereka.”

Saudaraku,
Ibnul Qayyim berkata, “Barangsiapa yang meninggalkan kelezatan (seksual) yang diharamkan karena Allah Ta’ala, maka pada hari kiamat Allah menggantinya dengan kelezatan yang lebih sempurna. Barangsiapa yang menikmatinya di dunia (dengan cara yang tidak sah, seperti zina, selingkuh dll), maka di sana kelak ia akan diharamkan daripadanya atau dikurangi kenikmatannya. Allah tidak memberikan kelezatan kepada orang yang meletakkan (kemaluannya) pada tempat yang diharamkan sebagaimana yang telah diberikan kepada orang yang menjaga kemaluannya karena Allah Ta’ala selama-lamanya.”

Saudaraku,
Orang yang paling sempurna di surga adalah orang yang paling bisa menjaga dirinya dari segala hal yang diharamkan Allah Ta’ala di dunia ini. Orang yang minum khamr di dunia, maka ia tidak meminumnya di akherat. Orang laki-laki yang mengenakan pakaian sutera di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akherat. Orang yang menggunakan perkakas dari emas dan perak di sini, maka di sana ia tidak akan mempergunakan perkakas dari emas dan perak. Orang yang menyalurkan syahwatnya di tempat terlarang, maka di akherat ia akan menyesali nasibnya sepanjang masa.

Disebutkan dalam sebuah syair:
Jagalah air spermamu semampumu
Karena air sperma itu merupakan air kehidupan
Yang akan disiramkan ke dalam rahim.

Akhirnya saudaraku,
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat merasakan kenikmatan hubungan suami-istri di dunia ini, dan termasuk mereka yang diberi jatah untuk melakukan senggama di akherat. Dengan para istri yang cantik jelita dan para bidadari yang bermata jeli. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Disarikan dari kitab; Tajul ‘Arus, karya Al-Istanbuli.

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Lantunan Istimewa Ramadhan

Oleh: Ustadz Faris Jihady, Lc Ramadhan dan Al-Quran, dua kata yang sangat akrab, hubungan antar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *