Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Islamku Bukan Islam Saudi Arabia, Juga Bukan Islam Nusantara
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Islamku Bukan Islam Saudi Arabia, Juga Bukan Islam Nusantara

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc.

abdullah-haidir

Islamku bukan Islam Saudi Arabia, juga bukan Islam Nusantara. Islamku adalah Islam ajaran Rasulullah SAW yang secara berantai disampaikan ulama.

Perkara ada budaya lokal yang mempengaruhi cara keberagamaan kaum muslimin, itu sangat wajar. Apalagi pada hal-hal yang tidak ada ketentuan nashnya.

Yang tidak benar adalah jika budaya lokal diagungkan melebihi pengagungannya terhadap Islam. Anti sektarian, tetapi sebenarnya sangat sektarian.

Sejak dahulu pengaruh budaya lokal itu sudah ada, tetapi tidak ada yang membuat jargon, Islam Saudi, Islam Afrika, Islam Mesir, Islam Nusantara….

Heran, kok ada ulama menggiring Islam dengan pengkotak-kotakan seperti ini. Soal ada beda pandangan, dan adu argumen, itu tradisi ulama. Jangan sektarian!

Selagi dalam ruang lingkup ahlussunnah wal jama’ah, yakinilah, jauh lebih banyak titik temu daripada perbedaanya, terutama dalam perkara-perkara prinsip.

Titik-titik temunya dijadikan sebagai sarana untuk saling bekerjasama dan menguatkan. Perbedaannya dijadikan sebagai sarana untuk latihan lapang dada dan toleran.

Dua kosa kata yang sering menggangu komunikasi dan dialog dalam diskursus agama: “Wahabi” dan “Ahli bid’ah” sebaiknya disingkirkan.

Intinya hindari stigma atau ungkapan menyudutkan dalam diskusi keagamaan, selagi masih dalam ruang lingkup aswaja. Terlepas sepakat atau tidak.

Yang lebih penting dari itu, Islam untuk diamalkan, bukan sekedar diperdebatkan. Debat keras soal qunut subuh, subuhnya malah sering absen.

Hemat saya, orang yang gemar angkat istilah ‘Islam Nusantara’ dan ‘Islam Saudi Arabia’ dialah salah satu aktor perusak kerukunan antar muslim yang bersaudara.

(Manhajuna/AFS)

Ustadz Abdullah Haidir, Lc. ,lahir dan besar di Depok, menyelesaikan pendidikan sarjana di LIPIA jurusan syari’ah. Sehari-hari beliau menjadi da’i di Kantor Jaliyat Sulay, sebuah lembaga yang memberikan penyuluhan tentang Islam kepada pendatang di Riyadh Arab Saudi. Selain itu aktifitas beliau adalah menjadi penulis buku dan kontributor artikel dakwah, mengisi taklim komunitas WNI, serta juga menjadi penerjemah khutbah Jum’at di Masjid Al Rajhi. Setelah 15 tahun berdidikasi di kota Riyadh, beliau memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *