Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Kado Istimewa untuk Orang Tua (Bag. 3, Habis)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Kado Istimewa untuk Orang Tua (Bag. 3, Habis)

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc.

Ini adalah bagian terakhir dari tulisan saya mengenai pesan-pesan penting buat setiap orangtua.

Kepada Allah kita mengadu, dengan kesungguhan yang telah kita kerahkan dalam mendidik anak-anak kita di rumah. Kita titipkan mereka kepada Allah, agar Dia menjaga mereka di madrasah dan lingkungan tempat mereka bergaul.
Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Di antara fitrahnya adalah bahwa ia suka meniru hal-hal yang dilihatnya. Dan yang paling disukainya adalah ia bisa meniru perilaku ayah dan ibunya. Bukankah ia senantiasa memperhatikan kita saat berdekatan dengan kita atau ibunya? Bukankah ia senantiasa memperhatikan kita bagaimana kita berinteraksi dengan dia dan manusia di sekeliling kita?

Siapa yang membawa keburukan ke dalam rumahnya, berarti ia telah mengundang anak dan istrinya berpartisipasi dalam keburukan tersebut, meskipun ia beranggapan bahwa ia telah menghilangkan jejaknya itu dari mereka.
Pernah terjadi dialog antara seorang ayah dan anaknya yang sama-sama buruk perangainya. Sang ayah berkata kepada anaknya, “Tidakkah kamu malu denganku? Kamu berlaku buruk kepadaku padahal aku telah mendidikmu?.”
Sang anak menjawab, “Seharusnya engkau lebih malu kepada Tuhan-mu. Engkau telah berbuat buruk terhadap-Nya padahal Dia telah menciptakanmu dan mengucurkan berbagai nikmat kepadamu.”

Ayahnya berkata, “Akan tetapi Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sang anak berkata, “Seharusnya, itu yang aku dapatkan darimu. Engkau memaafkan kesalahanku dan menyayangiku.”

Sang ayah berkata, “Namun, rahmat Allah akan memasukkan aku ke dalam surga, sedangkan rahmatku untukmu akan memasukkanmu ke dalam neraka.”

Sang anak berkata, “Sekiranya engkau memperhatikan pendidikanku sejak kecil, tentulah aku mencukupkan rahmat-Nya untukku dan tak membutuhkan rahmatmu.”

Sang ayah berkata, “Maukah kamu mentaatiku?”

Sang anak berkata, “Mustahil! Sebelum engkau kembali mentaati Allah Swt.”

Sang ayah berkata, “Bukankah kamu tidak menghormatiku selaku orang tua di hadapan manusia?”

Sang anak berkata, “Kedua tanganmu berbisa dan mulutmu berbusa.”

Seorang anak sejak lahir membawa tabiat tertentu. Kedua orang tua tak mampu merubah tabiat pada anaknya. Hanya saja keduanya mampu untuk memperhalusnya. Adapun akhlak budi pekerti anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikannya. Dari sini, hendaknya orang tua menjalankan perannya yang vital untuk membahagiakannya atau sebaliknya malah menyengsarakannya.

Anak laki-laki lebih banyak terwarnai ayahnya. Sedangkan anak perempuan banyak dipengaruhi ibunya. Para ibu yang tak terdidik akan mendidik anak-anak perempuannya dengan jalan; melontarkan celaan dan memberikan kutukan kematian dan kebinasaan. Para ayah yang sempit pengetahuannya, mendidik anak laki-laki mereka dengan cara memukul dan merendahkannya.

“Ya Rabb, jadikanlah anak-anak kami penyejuk mata hati kami. Dan jadikanlah mereka imam bagi hamba-hamba-Mu yang bertakwa, amien.”

(Habis)

(Manhajuna/AFS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

lipia

Buruan, Pendaftaran Mahasiswa Baru LIPIA 2016 (Cabang Medan, Surabaya dan Makasar)

Manhajuna.com – Alhamdulillah telah dibuka pendaftaran mahasiswa baru (Khusus ikhwan saja) jenjang I’dad lughowi untuk tahun akademik …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *