Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Khadijah Binti Khuwailid: Ummul Mukminin yang Mendapat Salam dari Allah Ta’ala
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Khadijah Binti Khuwailid: Ummul Mukminin yang Mendapat Salam dari Allah Ta’ala

Manhajuna.com – Jika Rasulullah SAW menemui gangguan dan rintangan dari orang-orang Quraisy, maka ada dua orang wanita yang selalu berdiri di sampingnya….yang selalu berdiri dibelakang dakwah islam, yang selalu membela dan berjaga untuk berkhidmah kepada pembawanya. Mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Dan dengan demikian maka Khadijah berhak menyandang predikat sebagai wanita terbaik di dunia.

Bagaimana Khadijah tidak demikian, sedang dia adalah Ummul mukminin, ibu orang-orang beriman. Ia sebaik-baik istri dan teladan yang baik bagi orang-orang yang mau mengikuti. Dia telah menyediakan rumah yang menentramkan untuk Nabi SAW sebelum beliau diutus menjadi Rasul….Dialah orang yang pertama kali beriman kepadanya ketika beliau mengajaknya menuju jalan Tuhan-Nya……Dialah sebaik-baik orang yang membantunya dengan jiwa, harta, dan keluarga.

Riwayatnya harum, hidup penuh dengan kebaikan..Jiwanya penuh dengan kebajikan. Rasulullah bersabda “Dia (Khadijah) beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau” (HR. Ahmad).

Bagaimana kita akan mencari contoh dan panutan lain, kalau didepan kita ada wanita paling baik di seluruh dunia, Khadijah binti Khuwailid. Ibu orang-orang mukmin, Istri yang setia dan patuh, yang senantiasa berbuat baik kepada suaminya, yang membantunya ketika bertahannuts (menyepi) sebelum diangkat menjadi nabi, yang meneguhkan hati dan membenarkannya, yang mendahului orang lain untuk mengimani risalahnya, yang membantunya dan membantu seluruh kaum muslimin dengan jiwanya, hartanya dan keluarganya. Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada-nya atas segala jasa dalam membela agama-Nya dan Nabi-Nya dengan balasan yang sebaik-baiknya, memberikan kecemerlangan dan kenikmatan kepadanya di dalam “istananya” yang pernah diberitahukan kepadanya oleh Nabi SAW sewaktu di dunia.

Ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW, Ia berkata,”… Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah, Ia datang dengan membawa sebuah bejana yang berisi lauk-pauk, makanan dan minuman, ternyata ia datang kepadamu, karena itu sampaikanlah kepadanya salam dari Tuhannya dan dariku, dan gembirakanlah dia bahwa dia akan memperoleh rumah di dalam surga yang menyenangkan, tidak ada keributan dan kepayahan didalamnya” (HR Bukhari dalam Fadhailu Ashhabin-Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata “ Riwayat ini telah disepakati keshahihannya”).

Bukankah istananya ini lebih baik daripada istana–istana didunia yang telah mempedayakanmu, wahai orang yang terperdaya olehnya? Bukankah kabar gembira ini lebih daripada dunia dengan segala isinya?.

Sayyidah Khadijah ra adalah orang yang pertama bergabung dalam kelompok orang beriman, dia adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah sesudah Nabi SAW. Dialah yang mengibarkan bendera islam bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Ia berjihad dan berjuang, mengorbankan segala harta kekayaannya, dan berani menentang kaumnya. Ia selalu dibelakang dengan memberi motivasi kepada suami dan nabinya hingga nafas yang terakhir.

Karena itu layaknya ia menjadi contoh ideal. Bagaimana tidak, sedang dia menjadi pembela Nabi SAW sejak awal kenabian. Malaikat Jibril rela turun kepada Nabi SAW untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali ketika beliau sedang berada di dalam gua diatas bukit, dan dibacakanlah beberapa ayat Al Quran kepadanya. Kemudian didalam perjalanan hendak pulang, Jibril masih menampakan diri diantara langit dan bumi. Nabi tidak berpaling kekanan maupun kekiri hingga melihatnya dengan jelas. Beliau berhenti tak bergerak, tidak maju dan tidak mundur.

Semua itu terjadi ketika Rasulullah masih berada di puncak bukit, dalam perjalanan yang penuh ketakutan tiada penghibur dan tiada penolong. Nabi SAW tetap berdiri saja ditempatnya, hingga hilang malaikat itu. Karena itu segeralah beliau pulang ke rumah Khadijah karena takut. Setelah tenang, Khadijah bertanya ke beliau, Kemana saja, wahai ayah Qasim? Demi Allah saya telah menyuruh beberapa orang untuk mencari hingga ke Mekkah, tetapi mereka kembali dengan tangan hampa. Lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Khadijah. Kemudian Khadijah berkata, “ Bergembiralah wahai engkau putra pamanku, dan teguhkanlah hatimu. Demi Tuhan yang diriku ditangan-Nya (kekuasaan-Nya), sungguh aku berharap engkau akan menjadi nabi bagi umat ini”.

Khadijah selalu meneguhkan hatinya, menghiburnya dan membantu urusannya. Nabi tak pernah melihat sesuatu yang menyedihkan dari Khadijah, tak pernah menyangkalnya, tak pernah mendustakannya, tak pernah merendahkannya, tak pernah lari darinya. Bahkan ia selalu melapangkan dadanya, menghilangkan kesedihannya, menyiram hatinya, dan memudahkan urusannya. Demikianlah seharusnya istri yang ideal.

Itulah Khadijah yang Allah pernah menyampaikan penghormatannya (salam) kepadanya, lalu Jibril turun kepada Nabi SAW dengan mengatakan, “Sampaikanlah salam kepada Khadijah dari Tuhannya” kemudian Nabi SAW bersabda “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril, Ia menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu”. Lalu Khadijah menjawab “Milik Allahlah segala keselamatan, dari–Nya datangnya keselamatan dan mudah-mudahan keselamatan juga dicurahkan keatas Jibril”.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Riwayat ini ada beberapa macam diantaranya bahwa Nabi SAW bersabda “Wahai Khadijah malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu, dan dalam sebagian lafalnya disebutkan bahwa Jibril berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya”.

Sungguh, ini merupakan kedudukan sangat mulia dan terhormat yang tidak diperoleh golongan As-Sabiqunal awwalun dan Khulafaur Rasyidin. Karena posisinya pada permulaan dakwah islam ini tidak dapat ditandingi dengan kegiatan apapaun sesudahnya.

Khadijah sendiri merupakan nikmat yang besar dari Allah kepada Rasul-Nya SAW. Khadijah menyertai Nabi SAW hanya selama seperempat abad. Ia selalu berbuat baik kepadanya ketika mengalami kegoncangan hati, membelanya pada saat-saat sulit, membantunya dalam menyampaikan risalah, menyertainya dalam perjuangan yang penuh kepahitan, menyayanginya dengan jiwa dan raganya.

Ia pernah disanjung Nabi SAW dengan sanjungan seperti tersebut dimuka. Ia juga pernah mendapat salam dari Tuhannya dan telah disediakan sebuah istana untuknya di dalam surga, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari diatas.

Sumber: Ditulis dari “Bunga-bunga di taman hati Rasulullah SAW” penerjemah Drs. As’ad Yasin (Pustaka Mantiq), dengan judul asli ” نساء حول االرسول صلا اللة علي وسلم “Karya Muhammad Ibrahim Salim. Kairo.

(Manhajuna/AS)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *