Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kolom / Mengenal dan Mensikapi Syekh Abdulqadir Jailani RA. (Bagian 1)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Mengenal dan Mensikapi Syekh Abdulqadir Jailani RA. (Bagian 1)

Oleh Ustad Abdullah Haidir, Lc.

Manhajuna – Beliau adalah Syekh Abdulqadir Abu Muhammad bin Abu Shaleh Abdullah Al-Jily, Al-Hambali.

Dilahirkan pada tahun 470 H (1077 M) di Jailan, sebuah perkampungan sekitar 40 km sebelah selatan dari kota Baghdad. Nama daerah inilah yang dinisbatkan pada namanya sehingga dia lebih dikenal dengan sebutan Abdul Qadir Jailani. Kadang ‘Jailani’ disebut juga dengan istilah ‘Kailani’, kadang juga disebut ‘Al-Jiily’

Lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang taat beragama. Bapaknya, Abu Shalih dikenal sebagai orang yang zuhud. Masa kecil dilalui dengan gemar menuntut ilmu. Beranjak dewasa, di usia 18 tahun, pada tahun 188 H, beliau pergi ke Baghdad untuk memperdalam ilmu agama. Maka beliau menimba ilmu dari sejumlah ulama di Baghdad.

Guru yang paling berpengaruh baginya adalah Abu Sa’ad Al-Mukharimi. Darinya Syekh Abdul Qadir mendalami fiqih mazhab Hambali sehingga mengantarkannya di kemudian hari sebagai salah seorang ulama terpandang dalam mazhab Hambali. Bahkan buah dari ketekunannya dan kepadaiannya, kurang lebih 30 tahun kemudian, syekhnya; Abu Saad Al-Mukharrimi menyerahkan madrasah yang dikelolanya kepada beliau untuk melanjutkannya. Maka sejak saat itu, jadilah beliau pengajar di madrasah yang didirikan oleh gurunya.

Setelah diamanahkan melanjutkan pengajian di madarasah yang dirintis oleh gurunya, jadilah Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai ulama terpandang di tengah masyarakat kota Baghdad. Banyak murid-murid yang berdatangan dan menuntut ilmu darinya. Di antara muridnya yang terkenal adalah Muwaffaquddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Qudamah, pengarang kitab Al-Mughni yang menjadi salah satu rujukan utama fiqih dalam mazhab Hambali.

Selain dikenal dengan kedalaman ilmunya, SyekhAbdul Qadir Jailani juga dikenal dengan kemampuannya berbicara dan memberikan nasehat yang sangat menyentuh hati. Hal itu ditambah dengan kepribadiannya yang dikenal sebagai orang yang zuhud dan tak banyak cakap. Maka wajar jika lambat laun semakin banyak orang yang menghadiri pengajiannya. Banyak orang bertaubat dan masuk Islam setelah mendengarkan pengajiannya.

Satu hal lagi yang sangat khas dari riwayat hidup Syekh Abdul Qadir Jailani adalah kisah-kisah tentang karomahnya. Ibnu Qudamah mengatakan, “Aku belum pernah mendengar orang yang banyak dikisahkan karomahnya selain beliau.” Abdul Iz bin Abdussalam, ulama dalam mazhab Syafii mengatakan, “Tidak ada riwayat yang sampai kepada kami tentang karomah seseorang yang disampaikan secara mutawatir selain Syekh Abdul Qadir Jailani.” Akan tetapi, menurut Adz-Dzahaby, penyusun kitab bioghrafi para ulama; Siyar A’lam An-Nubala, “Syekh Abdul Qadir Jailani adalah orang yang paling sering diceritakan karomahnya, namun banyak di antara cerita tersebut yang tidak benar.”

Di antara kisah menarik yang dikutip oleh Azzahaby dari  Ibnu Najjar dari Abu Bakar Abdillah At-Taimi, dia mendengar Syekh Abduul Qadir Jailani berkata,

“Aku pernah mengalami masa yang sangat sulit, sehingga beberapa hari tidak makan. Sehingga aku mencari bekas-bekas makanan, itu pun sering kalah cepat dari orang miskin lainnya. Sehingga ketika merasa aku sudah tak kuat lagi, maka aku berlindung ke masjid, seakan menunggu kematian. Tak lama kemudian masuklah pemuda asing membawa roti dan daging, lalu dia mulai makan. Setiap kali dia hendak menyuap, mulutku pun terbuka. Lalu dia menoleh kepadaku dan memberikan makanannya. Aku menolak, tapi dia memaksa. Akhirnya dengan rasa menyesal aku memakannya. Lalu dia bertanya,

“Apa pekerjaanmu? Sedang belajar ilmu agama?’

“Aku dari kampung Jailan. Apakah engkau kenal pemuda yang bernama Abduul Qadir yang dikenal cucu Abu Abdullah Ash-Shaumai yang zuhud itu?”

“Akulah orangnya.”

Orang itu sangat terkejut… lalu berkata,
“Demi Allah wahai saudaraku, aku tiba di Baghdad dan aku membawa ongkos dari uangku sendiri. Aku tanya kesana kemari tentang engkau, namun tidak ada seorang pun yang memberitahu. Akhirnya uangku habis, aku bertahan hingga tiga hari, tidak ada biaya makanku kecuali dari hartamu.  Maka setelah hari keempat, aku berkata bahwa kini telah halal bangkai bagiku. Maka aku gunakan uang titipan milikmu untuk membeli roti dan daging ini. Makanlah, ini milikmu, sekarang aku yang menjadi tamumu.”

Aku bertanya, “Bagaimana ini?”

“Ibumu menitipkan uang 8 dinar kepadaku untukmu, demi Allah, aku tidak pernah khianat kepadamu hingga hari ini.”

Maka akhirnya aku sambut dia, aku tenangkan pikirannya dan aku berikan sebagian uangnya kepadanya.

Berdasarkan semua itu wajar kalau banyak murid-muridnya yang sangat mencintainya. Sebagian pada taraf berlebih-lebihan. Dari sinilah muncul beberapa sikap melampaui batas terhada Syekh Abdul Qadir Jailani dalam bentuk keyakinan-keyakinan yang tidak dibenarkan oleh syariat dan beliau sendiri tidak membenarkannya. Karena beliau adalah orang yang sangat memperhatikan ketentuan syariat, khususnya dalam masalah halal dan haram.

Dikisahkan bahwa suatu hari Syekh Abdul Qadir Jailani suatu saat sangat kehausan. Tiba-tiba datang awan kepadanya dan menurunkan hujan gerimis, sehingga dia dapat minum dan hilang dahaganya, lalu dibalik awan itu muncul seruan: “Wahai fulan, aku adalah Tuhanmu, dan Aku telah menghalalkan bagimu segala sesuatu yang diharamkan.” Maka dia segera berucap:  “Enyahlah engkau wahai laknat!”, kemudian dengan serta merta awan itu sirna. Ketika ditanya kepadanya dari mana dia tahu bahwa itu adalah Iblis?!, beliau menjawab: “Dari ucapannya: Telah aku halalkan apa yang diharamkan.”

Di usia tuanya, Syekh Abdulkadir Jailani lebihsuka menyendiri di padang pasir dan menerapkan kehidupan zuhud. Beliau hidup hingga berusia 90 tahun. Wafat tahun 561 tahun, dimakamkan di sekolahnya, di Baghdad.

Sumber:

– Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi
– Karomatul Auliya’illah, Al-Laalika’i

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Haji dan Perubahan

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Watak dasar kehidupan adalah adanya perubahan. Tidak ada perubahan, berarti …

2 Komentar

  1. Assalamu alaikum ustadz,,, mohon pencerahannya mengenai thoriqot yg mengkultuskn mursyid dan syech Abdul qodir jailani. Syukron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *