Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Alquran / Menjaga Kesucian Diri
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Menjaga Kesucian Diri

Oleh Ust. Fir’adi Nasrudin, Lc.

» قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ »

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31).

Saudaraku,
Ahmad Farid dalam kitabnya “mawaqif imaniyah” banyak mengutip kisah orang-orang yang Allah jaga dari godaan (fitnah) wanita. Dalam tulisan ini kita cukupkan untuk mengutip kisah salaf (‘Atha bin Yasar) dan khalaf (Sayyid Qutub) dalam masalah ‘iffah, yaitu memelihara kesucian diri.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bertutur,
“Suatu ketika ‘Atha bin Yasar dan Sulaiman bin Yasar keluar dari kota Madinah untuk menunaikan ibadah Haji bersama rombongan. Sehingga ketika mereka telah berada di al-‘Abwa mereka singgah di tempat persinggahan mereka. Sulaiman bin Yasar dan rombongan pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan tinggallah ‘Atha sendirian melaksanakan shalat malam.

Ketika itu masuklah ke tempat persinggahan ‘Atha seorang wanita dusun yang cantik jelita. Ketika ‘Atha’ merasakan kehadiran wanita itu, ‘Atha mengira bahwa wanita itu punya keperluan, maka ‘Atha pun meringankan bacaan shalatnya.

Ketika ‘Atha telah menyelesaikan shalat malamnya, ‘Atha bertanya kepada wanita itu, “Apakah engkau punya keperluan?.”

Wanita itu menjawab, “Ya”. ‘Atha bertanya lagi, “Apa keperluanmu itu?.”

Wanita itu berkata, “Bangkitlah, lalu curahkanlah kasih sayangmu kepadaku! sesungguhnya aku seorang wanita yang ingin merasakan sentuhan laki-laki sepertimu (karena ‘Atha memiliki paras yang rupawan) dan aku belum memiliki pasanagan hidup.”

‘Atha berkata, “Menjauhlah dariku! Janganlah engkau lemparkan aku dan dirimu ke dalam api neraka!.”

Lalu wanita itu berusaha merayu dan menggoda ‘Atha dan tetap bersiteguh untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Maka mulailah ‘Atha menangis seraya berkata, “Menjauhlah engkau dariku! Menjauhlah engkau dariku!.”

Tangisan ‘Atha makin lama makin keras. Ketika wanita cantik itu melihat ‘Atha dan merasakan getaran tangisan serta kecemasan yang menimpa ‘Atha, menangislah wanita itu mengiringi tangisan ‘Atha.

Di saat ‘Atha dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Sulaiman bin Yasar datang setelah memenuhi keperluannya.

Ketika Sulaiman melihat ‘Atha sedang menangis, dan seorang wanita di hadapannya sedang menangis di sudut ruangan, Sulaiman pun menangis mengikuti tangisan keduanya padahal Sulaiman tidak tahu apa yang menyebabkan keduanya menangis.

Setelah itu datanglah sahabat-sahabat satu rombongan dengan ‘Atha dan Sulaiman satu persatu. setiap kali seorang sahabat itu datang ke tempat persinggahan mereka lalu melihat mereka sedang menangis, maka sahabat itu pun duduk sambil menangis karena mendengar tangisan mereka tanpa menanyakan perihal tangisan mereka, sehingga tangisan pun meluas dan suara tangisan terdengar keras bersahut-sahutan.

Ketika wanita dusun itu menyaksikan keadaan seperti itu, ia pun berdiri lalu pergi keluar dan berdirilah para sahabat ‘Atha lalu masuk ke dalam. Sulaiman terdiam setelah itu dan dia tidak menanyakan apa-apa kepada saudaranya (‘Atha) tentang kisah wanita itu karena merasa hormat dan segan. ‘Atha lebih muda darinya.

Kemudian keduanya datang ke Mesir untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Keduanya tinggal di Mesir beberapa waktu lamanya. Pada suatu malam ‘Atha terbangun dalam keadaan menangis. Sulaiman bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai adikku?.”

‘Atha menjawab, “Aku telah bermimpi tadi malam.”
Sulaiman berkata, “Mimpi apakah itu?.” Berkata ‘Atha, “Aku akan menceritakan mimpiku kepadamu dengan syarat, engkau tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa pun selama aku masih hidup.”

Berkata Sulaiman, “Akan kupenuhi syaratmu.” Berkata ‘Atha, “Aku melihat Nabi Yusuf a.s di dalam mimpiku. Maka aku pun mendatangi beliau untuk melihatnya, maka aku (kagum) melihat ketampanan beliau maka aku pun menangis. Maka beliau melihatku di tengah kerumunan orang banyak lalu beliau berkata, ‘Mengapa engkau menangis wahai saudaraku?.”

Aku (‘Atha) berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi Allah. Aku teringat (kisah) engkau dengan istri al-Aziz dan ujian yang menimpa engkau dari godaan wanita cantik tersebut. Dan apa yang engkau rasakan di dalam penjara karena keteguhanmu. Dan perpisahanmu dengan ayahanda Ya’qub yang sudah berusia lanjut. Aku menangis karena mengingat hal itu semua dan itulah yang membuatku kagum.”

Berkata Nabi Yusuf a.s, “Mengapa engkau tidak kagum terhadap pemilik (kisah dengan) seorang wanita dusun di al-‘Abwa?.” Aku mengerti maksud beliau (Nabi Yusuf a.s). Oleh sebab itu aku menangis dan terbangun dalam keadaan menangis.”

Berkata Sulaiman, “Wahai adikku, apakah yang sebenarnya terjadi antara engkau dengan wanita dusun malam itu?.”

Maka ‘Atha pun menceritakan kisahnya dengan wanita itu, kisah itu pun tidak pernah diberitahukan kepada seorangpun sampai ‘Atha wafat. Setelah ‘Atha wafat barulah salah satu dari keluarganya menceritakan kisah itu kepada orang lain.

Sulaiman bin Yasar berkata, “Kisah ini baru popular di masyarakat Madinah sepeninggal ‘Atha bin Yasar.”

Saudaraku,
Ketika Sayyid Qutub menumpang sebuah kapal laut dari Mesir menuju benua Amerika dalam rangka melakukan tugas penelitian.

Cobaan datang untuknya pertama kali terjadi ketika seorang wanita cantik tiba-tiba mengajaknya bercinta di sebuah kamar kapal. Hal itu terjadi tidak lama setelah Sayyid Quthb memasuki kamarnya untuk istirahat.

Saat itu suara seorang wanita terdengar mengetuk pintu kamarnya. Sayyid Quthb lalu membukanya. Tak disangka, ternyata di hadapannya telah berdiri seorang wanita setengah telanjang dengan gaya merangsang. Sang wanita itu menyapa Sayyid lewat bahasa Inggris, “Bolehkah aku menjadi tamu tuan malam ini?.”

Sayyid terperangah. Ia sadar sedang diuji oleh Allah, karena Sayyid sudah bertekad menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Islam. “Aku bermaksud menjadi orang kedua, yakni orang Islam yang loyal dan kukuh berbeda dengan sebelumnya, dan Allah hendak mengujiku, apakah maksud dan niatku ini benar, atau hanya sekedar bisikan hati saja?.” gumam Sayyid membatin.

Ketika ia sadar dari lamunan hatinya, ia lekas mengangkat kepalanya, lalu menolak rayuan wanita itu secara halus. Namun, wanita itu bergeming. Melihat kondisi tidak berubah ke arah lebih baik, Sayyid mengatakan, “Di kamar hanya ada satu tempat tidur, maaf.”

Mendengar jawaban Sayyid, wanita itu semakin mendesak untuk masuk. Wanita itu berkata, “Zaman sekarang sudah biasa, satu ranjang untuk dua orang.” Pada titik itulah, Sayyid bersikap lebih tegas. Dengan iman yang teguh, ia mengusir sang wanita menjauh dari kamar. Wanita itu terjatuh dan kepalanya menabrak pintu karena ia sedang mabuk.

Saudaraku,
Itulah kisah orang-orang shalih yang telah sukses menaklukan godaan wanita. Kita tidak bisa membayangkan sekiranya hal itu terjadi menimpa kita? Mungkin memikul gunung semeru jauh lebih ringan daripada menghadapi godaan kaum hawa untuk melayari samudera cinta terlarang.

‘Iffah dalam kamus lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur, berarti memelihara diri dari sesuatu yang tak halal dan menjaga diri dari perkara-perkara yang bisa menodai keelokan pekerti.

Rasulullah s.a.w telah mewanti-wanti kita dengan sabdanya, “Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berat daripada fitnah wanita.” (Muttafaq alaih).

Bahkan Nabi s.a.w memberi garansi surga bagi orang yang mampu mengekang kemaluannya, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibir (lisan)-nya dan di antara dua paha (kemaluan)-nya, maka aku jamin ia masuk ke dalam Surga.” (HR. Bukhari).

Tidaklah ada garansi surga dari Nabi s.a.w, terkecuali pengamalannya sangat berat dan membutuhkan kesungguhan puncak untuk merealisasikannya dalam kehidupan kita. Karena faktanya, banyak yang terpuruk lantaran ucapan lisan, dan tidak sedikit yang harus menanggung malu di dunia, karena tak mampu mengendalikan syahwat kemaluannya.

Ibnu al-Qayyim menjelaskan ada beberapa faktor yang mendorong orang-orang shalih menjaga kesucian diri, di antaranya:

• Memuliakan al-Jabbar (Yang Maha Agung), dan merindukan bidadari bermata jeli di dar al-qarar (kediaman yang abadi) yakni surga. Karena orang yang menikmati persenggamaan dengan cara yang Allah haramkan, maka ia tak dapat bercumbu dengan para bidadari di surge kelak. Nabi s.a.w mengilustrasikan hal itu dalam sabdanya, “Barangsiapa yang memakai pakaian sutera di dunia (laki-laki), maka dia tidak akan memakainya di akherat.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).

• Tingkatan kedua adalah orang yang menjaga kesucian dirinya karena sekadar takut terhadap siksa-Nya di akherat. Hadits Abu Umamah al-Bahili r.a, Rasulullah s.a.w bersabda (pada peristiwa mi’raj), “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran. Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

• Tingkatan ketiga adalah orang yang menjaga ‘iffah dirinya lantaran takut dengan aib dan malu di dunia.

Saudaraku,
Yang tidak kalah pentingnya agar kita dapat menghiasi diri dengan pakaian ‘iffah adalah kita menjaga pandangan, di mana kita tidak memandang dan menikmati kecantikan atau ketampanan seseorang melainkan yang telah Allah pasangkan untuk kita di dunia.

Rasulullah s.a.w bersabda, “Pandangan adalah panah yang beracun, yang merupakan salah satu panahnya Iblis.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Untuk itu Ibnu Katsir menafsirkan ayat 30-31 surat an-Nur dengan perkataannya, ‘Dengan ayat ini Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar menundukkan pandangan mereka dari segala sesuatu yang diharamkan (untuk dilihat). Oleh karena itu, jangan melihat sesuatu kecuali yang dibolehkan. Jika pandangan seseorang beradu dengan sesuatu yang haram tanpa bermaksud melihatnya, maka hendaknya ia mengalihkan pandangannya dengan segera’.

Mudah-mudahan Allah s.w.t senantiasa membimbing kita agar kita selalu melangkah dan menapaki jalan ‘iffah, sehingga kehormatan kita di dunia terjaga dan di akherat mendapatkan bidadari nan cantik jelita di surga-Nya yang kekal abadi. Amien ya Rabb. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 06 Maret 2015

Fir’adi Abu Ja’far

Tentunya sudah sering kita mendengarkan, seperti kisahnya Nabi Yusuf ‘alahissalam ketika diajak oleh Istrinya Raja untuk berzina, namun dia menolak karena takut kepada Allah.
Kisah yang satu ini juga menceritakan tentang seorang pemuda tampan yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik, namun dia pun menolak ajakannya karena takut kepada Allah. Apa yang dilakukan oleh pemuda ini agar bisa lolos dari godaan & jeratan wanita ini??? Inilah kisahnya…

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama “Faraqna” oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: “faraqna-faraqna”, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya.

Lalu si wanita itu berkata : “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. ” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya.

Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: “Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku.”

Setelah si pemuda melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: “Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?” Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab : “Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus.”

Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga.

“Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang bingung .” Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya.” Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: “Aku takut kepada Allah.” Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup.”

“Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku… Tidak… tidak… Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram… Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi.”

Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: “Ya Rabbi, wahai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku ‘kebaikan’ sebagai gantinya.”

Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak : “keluar kau hai orang gila!” Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja? Tidak… Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta’alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan “Al-miski” (yang harum seperti kasturi).

Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya “Ini kuburan Al-Misky”, dan banyak orang yang menziarahinya.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membelanya, Allah senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits QudsiNya yang artinya: “Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon?!”

Pembaca yang budiman! Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai penggantinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil.
Allahu Akbar.

Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan? Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan seruan fitrah yang suci?

(Manhajuna/GAA)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Khutbah Jumat: Jangan Sombong

Oleh Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Di antara sifat tercela yang harus kita jauhi dari diri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *