Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Menjalin hubungan Harmonis antara Menantu dengan Mertua
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Menjalin hubungan Harmonis antara Menantu dengan Mertua

oleh: Kiki Barkiah

Mungkin kita pernah mendengar salah satu judul buku yang terkenal yang menjelaskan bagaimana perbedaan makluk yang bernama Pria dan Wanita. Mens are from Mars Womens are from Venus. Buku tersebut mengisahkan bagaimana keunikan kedua makluk tersebut yang memiliki karakter mendasar yang begitu berbeda. Dalam dunia pernikahan, hubungan yang dibangun tidak hanya antara suami istri, namun pernikahan pada hakikatnya juga menggabungkan kedua keluarga. Dalam konteks yang lebih sederhana, pernikahan menghadirkan seseorang baru, yang hadir dalam hidup sebuah keluarga.

ummi-online

Permasalahan antara mertua dan menantu dikenal sebagai permasalahan klasik yang muncul dalam sebuah pernikahan. Terutama pernikahan di usia muda. Permasalahan menantu dan mertua lebih sering muncul terkait dengan pola hubungan dengan ibu mertua dibanding dengan ayah mertua. Mengapa? Jawabannya karena ibu mertua adalah wanita, yang dalam buku tersebut dijuluki sebagai makhluk yang berasal dari venus. Permasalahan dalam membangun hubungan dengan ibu mertua biasanya mucul karena sifatnya yang terlalu berasa, jarang menggunakan pertimbangan logika, sangat mudah tersentuh hatinya sehingga juga sangat mudah terprovokasi. Ibu mertua cenderung mudah tersinggung jika sarannya diabaikan, kapabilitasnya diragukan, keberadaannya dinafikan, sehingga terkadang sikap yag muncul justru terkesan “lebay”.

Sebagai seorang ibu, ibu mertua memiliki jiwa partiotisme terhadap anak-anaknya. Jiwa keibuannya akan tersentak jika “teman hidup” anaknya akan mempengaruhi kehidupan anaknya, akan mempengaruhi hubungan mesra dengan buah hatinya, terlebih jika membawa kerugian bagi anaknya atau minimal menjauhkan anaknya dari dirinya. Jiwa patriotisme inilah yang membuatnya berjuang menyelamatkan anaknya dari kemungkinan-kemungkinan buruk walau terkadang akhirnya menjatuhkan sikap mereka pada titik yang melampaui batas. Ibaratnya jika saat ini anak kita memiliki seorang teman yang bertabiat buruk, atau bersifat foya-foya, atau membuat anak kita menjadi melawan terhadap kita. Jiwa patriotisme kita sebgai seorang ibu akan menganggat senjata untuk menjauhkan anak-anak kita dari pengaruh buruk tersebut. Seandaianya kita bisa melakukannya. Seandainya tidak bisa melakukannya, inilah yang kemudian menjadi penyebab konflik yang berkepanjangan dalam hubungan antara menantu dan mertua.

Sebagai seorang menantu, pasti kita memiliki harapan untuk dapat diterima oleh mertua kita. Agar mertua kita dapat menerima kita, maka terlebih dahulu kita harus menerima mereka. proses penerimaan yang pertama adalah menerima mereka sebagai orang tua kita dengan segala cinta mereka dan kritikan mereka. Seringkali menantu hanya bersedia menerima pujian dan sanjungan mertua tetapi tidak mau menerima teguran, kritikan dan komplain dari mertua. Menantu bersedia menerima cinta dan kasih sayang mertua tetapi tidak mau menerima amarah mertua. Menantu bersedia menerima bantuan mertua tetapi tidak bersedia menerima perintah mertua. Menantu bersedia menerima kebaikan mertua tetapi tidak bersedia menerima kekurangan mertua. Bahkan dalam kondisi yang sangat ekstrim, para menantu menginginkan menjadi bagian dari ahli waris mertua namun tidak mau menerima mertua sebagai bagian dari hidupnya. Sehingga sikap yang muncul adalah menempatkan mertua sebagai orang lain yang tidak memiliki hak apapun dalam hidupnya.

fidyah

Proses penerimaan yang kedua adalah menerima mertua sebagai orang yang paling baik. Agar menantu dapat melihat cara pandang mertua sebagai suatu kebaikan meskipun berbedap pendapat maka perlu ditumbuhkan perasaan empati dan menempatkan diri seandainya ada dalam posisi mertua. Agar menantu dapat lebih berempati dengan kedudukan mertua, maka bayangkanlah posisi mertua yang tiba-tiba harus menerima orang luar yang asing baginya. Kemudian orang luar tersebut tiba-tiba masuk dalam ketenangan hidupnya dan mau tidak mau harus menerimanya dengan segala permasalahan yang akan timbul dengan kedatangan menantu. Bahkan pada kenyataannya sering kali mertua dipaksa mengerti menantu dengan segala karakter dan latar belakang yang dimilikinya. Mertua tiba-tiba harus menerima “hasil didikan orang lain” kedalam kehidupannya sebagai bagian dari kehidupannya kedepan, bahkan mungkin seumur hidupnya. Dan semua itu terjadi bukan karena hasrat dan keinginannya melainkan karena orang luar tersbut datang dalam kehidupannya karena dibawa oleh buah hatinya. Oleh karena itu, agar menantu dapat diterima oleh mertua maka perlu diawali dengan penerimaan menantu terhadap mertua dengan menganggap mertua sebagai orang yang baik.

Proses penerimaan yang ketiga adalah menerima mertua sebagai bagian dari hidup mereka. Dengan penerimaan ini, maka akan tercipta proses penyesuaian dan penyelarasan dalam hubungan menantu dan mertua. Karena bagaimanapun, suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok, menantu tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan mertua, begitu juga sebaliknya. Proses penerimaan ini tidak berarti harus tunduk, patuh, nurut atas segala perintah atau pendapat mertua. Namun lebih pada melibatkan keberadaan mereka dalam proses perbaikan kehidupan bersama. Proses melibatkan keberadaan mereka akan melahirkan sikap saling mendukung dalam kebaikan, saling melengkapi dalam kekurangan, serta saling menasihati secara santun dan proporsional demi kebaikan dunia akhirat. Sikap santun, penuh hormat dan proporsianal ini akan mudah dilahirkan dari seorang menantu yang telah menerima mertua pada 2 point yang disebutkan diatas, yaitu menerima mertua sebagai orang tua dan sebagai orang yang baik. Meskipun begitu, pada kenyataannya proses menasihati yang santu dan proporsional memang lebih sulit dilakukan secara bottom up. Menantu cenderung dalam posisi yang harus nurut dan tidak boleh membantah walaupun banyak terjadi kasus dimana para menantu tersebut justru menggerutu, mengumpat, marah bahkan mengadukan sikap mertua kepada orang lain tanpa sepengetahuannya. Namun, jika seorang menantu dapat menempatkan mertua sebagaimana layaknya orang tua sendiri dimana biasanya seorang anak memiliki keleluasaan untuk berpendapat kepada orang tuanya sndiri, maka seharusnya hal tersebut juga dapat berlaku bagi mertua.

Sebagian menantu mungkin memilih sikap diam dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan mertua kemudian mengambil langkah-langkah pembuktian terhadap pendapatnya. Namun yang perlu diingat apakah proses pembuktian itu akan memberikan kebahagiaan mertua atau justru sebaliknya, membuat mertua semakin terpojok yang justru tidak mengubah sikap mereka terhadap menantunya bahkan cenderung semakin memburuk. Jika kita tinjau dalam pandangan islam, Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari siksa api neraka. Maka seorang menantu yang tengah melakukan pembuktian, harus memastikan bahwa hal yang dilakukannya bukanlah sebuah sikap sesaat. Pembuktian yang hakiki adalah sebuah sikap yang mampu melahirkan perbaikan dunia akhirat khususnya bagi keluarga. Karena mertua adalah bagian dari hidup seorang menantu, maka sikap dalam pembuktian tersebut juga harus diupayakan melahirkan kebaikan bagi mertua pula. Dengan kata lain, proses pembuktian yang dilakukan tidak boleh membiarkan mertua dalam keburukan, namun harus diupayakan adanya perbaikan semua pihak.

Sebagian menantu mungkin memilih untuk diam dan tidak membangun komunikasi dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan mertuanya. Namun sikap diam yang sesungguhnya dipilih lebih karena ingin mencari aman akan menyebabkan mertua tidak pernah mengerti tentang pendapat menantunya. Dengan membangun dialog diharapkan mertua dapat mengerti posisi menantu yang tengah membutuhkan sebuah proses dalam melakukan perbaikan. Jika dialog ini tidak dibangun, akan menimbulkan kemungkinan para mertua menganggap bahwa menantunya keras kepala atau mengeyel.

540900_281262708662625_776490553_n

Komunikasi yang baik akan terjalin bila minimal salah satu pihak memiliki itikad baik. Pada sisi menantu, untuk menumbuhkan itikad baik tersebut harus melakukan beberapa upaya berikut:
1. berusaha untuk menerima, mencintai dan menghormati mereka sebagai orang tua
2. Berusaha memahami perasaan dari sisi mertua
3. Berusaha untuk menyadari bahwa mertua adalah bagian dari hidup menantu di dunia dan akhirat yang akan menjadi unsur pembaik atau pemburuk kehidupannya di dunia dan akhirat

Maka proses penyesuaian menjadi kunci kesuksesan dalam hubungan mertua dan menantu. Konflik biasanya lebih sering muncul jika salah satu pihak meminta dipahami apalagi mengharapkan untuk dapat berbalik arah secara seketika untuk sependapat dengan salah satu pihak. Namun, jika ditinjau dari fitrah manusia yang akan kembali melemah di hari tua, biasanya mertua cenderung lebih sensitif bahkan kembali berperilaku seperti anak-anak. Oleh karena itu, proses penyesuaian tersebut perlu diawali dari pihak menantu. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan terlebih dahulu oleh pihak mertua jika mertua memiliki itikad baik.

Permasalahan antara menantu mertua dapat juga muncul apabila salah satu pihak tidak mampu mengkomunikasikan ketidaknyamanannya kepada pihak lain. Bisa jadi sikap yang selama ini dianggap salah oleh pihak lain tidak disadari sebagai sebuah kesalahan sikap pada dirinya. Sehingga sikap itu terulang dan semakin menumpuk rasa ketidaknyamanan pihak lainnya. Oleh karena itu, komunikasi kembali memegang eranan penting dalam keharmonisan hubungan menantu dan mertua. Apabila pihak lain telah mengetahui bahwa sifat atau sikapnya memberikan ketidaknyamanan bagi pihak lain, akan memberikan kesempatan munculnya perbaikan. Namun jika komunikasi itu tidak pernah dibangun, maka wajar jika perbaikanpun tidak pernah terlihat diupayakan. Hal ini menjadi catatan penting dalam membangun sebuah pernikahan. Calon pasangan tidak hanya membutuhkan proses untuk saling mengenal diantara kedua pasangan. Namun proses penngenalan perlu dilakukan terhadap kondisi keluarga besar khususnya calon mertua. Sehingga jauh sebelum pernikahan berlangsung, secara garis besar calon anggota keluarga baru telah cukup mengenal kondisi keluarga yang akan ia masuki.

Dalam konteks amar ma’ruf nahi mungkar proses komunikasi dalam perbedaan pendapat yang sangat fundamental dalam kehidupan wajib dibangun. Terlebih bagi mereka yang ingin menjaga seluruh keluarganya agar terbebas dari siksa api neraka. Beberapa hal yang perlu dimiliki oleh salah satu pihak dalam beramar ma’ruf nahi mungkar kepada pihak lain adalah sebagai berikut:

1. Percaya Diri
2. Memiliki keyakinan bahwa yang akan disampaikan adalah sebuah kebenaran baik dalam tinjauan agama maupun etika sosial
3. Siap menerima respon negatif dengan cara yang positif

Untuk menumbuhkan sikap percaya diri dalam membangun komunikasi, kedua belah pihak harus memposisikan diri sebagai sesama mausia dewasa. Memiliki hak yang setara sebagai sesama manusia dewasa, tanpa melihat perbedaan pengalaman dan pendidikan. Sehingga kedua belah pihak mampu bersikap selayaknya manusia dewasa dan saling bersikap dengan penuh rasa hormat. Dengan pola hubungan yang setara ini akan memberikan peluang untuk saling menyampaikan kebenaran, saling mencegah kemungkaran, bertanya tentang keinginan pihak lain, serta meminta saran dan kritik. Namun disi lain, seorang menantu hendaknya bersikap selayaknya anak terhadap orang tua yang ingin disayang, ingin bermanja-manja. Menyentuh sisi keibuan mertua akan menciptakan hubungan yang harmonis.

Tidak selamanya kebenaran dan kebaikan yang ingin disampaikan kepada pihak lain dapat direspon secara positif. Saat pendapat kita diterima secara negatif hendaklah kita dapat menyikapinya secara positif. Apabila respon negatif membuat kita merasa “terjatuh” maka hal ini dapat memunculkan stress. Apabila kita merasa trauma dalam menyampaikan pendapat maka akan memunculkan perasaan rendah atau merasa kerdil dihadapan mertua. Keberanian dalam menyampaikan pendapat juga berarti tidak merasa takut disalahkan dan tidak merasa malu mengakui kebenaran yang disampaikan pihak lain walaupun pendidikan kita lebih tinggi. Respon negatif dari mertua juga harus diterima secara positif sehingga tidak menimbulkan perasaan marah yang mendorong seorang menantu berkeinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya apalagi sampai meminta untuk bercerai. Sikap positif juga berarti tidak merasa takut dianggap bodoh meskipun pendidikan kita lebih tinggi karena pada dasarnya kedua belah pihak sedang belajar memainkan peran barunya. Sikap positif juga berarti berani menanyakan hal yang menjadi harapan pihak lain sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama berkali-kali.

ibu_nganter_ke_sekolah2

Semua menantu pasti memiliki harapan untuk memiliki kedudukan dalam hati mertua. Mungkin sebagian memaknainya dengan selalu memenuhi keinginan mertuanya. Namun pada hakikatnya, mengambil hati mertua itu bukan hanya dengan “berhasil” memenuhi keinginanannya, namun dengan keberhasilan menantu dalam menggiring opini-opini mertua untuk selaras dengan opini mereka sehingga tidak menimbulkan pertentangan yang serius. Itulah keberhasilan yg seharusnya.

Sikap yang sama juga perlu dilakukan oleh mertua kepada menantunya, diantaranya:

1. Menerima kebaikan dan kekurangan menantu
2 .Dapat memahami posisi dan perasaan menantu
3. Dapat menghargai keberadaannya
4. Menjadikan menantu sebagai sarana perbaikan kehidupan dunia akhirat
5. Bangun rasa percaya diri dalam menjalin komunikasi serta tidak berlindung dibalik gengsi
6. Dapat menyampaikan isi hati , saran kritik dan solusi dengan jelas dengan didasari sikap saling menghormati dan menghargai
7. Dapat menerima perbedaan , bahkan respon negatif dengan sikap positif agar dapat meraih tujuan yg ingin di capai.

Itikad baik dari kedua belah pihak atau bahkan hanya muncul diawali oleh salah satu pihak insya Allah akan memperbaiki hubungan diantara kedua belah pihak. Awali dengan pikiran positif, prasangka positif, sehingga memunculkan aura positif dalam diri untuk selalu bersikap positif. Sebaliknya, pikiran dan prasangka negatif hanya akan melahirkan aura negatif yang menuntun kita untuk bersikap negatif pula. Meskipun begitu, hanya ikhtiar yang dapat dilakukan manusia, sementara hasilnya adalah kekuasaan Allah. Baik menantu ataupun mertua keduanya adalah makhluk Allah, maka hati mereka ada dalam genggaman Allah. Ketika Allah merahmati keduanya untuk menjadi lebih baik, insya Allah perbaikan demi perbaikan akan dicapai. Lakukan segala upaya dengan niat ikhlas karena Allah demi kebaikan dunia dan akhirat. Jika iktiar telah dilakukan maka bersabar menjadi pilihan sikap apabila perbaikan belum juga terwujud. Bersabar dan memperkuat kesabaran. Libatkan pasangan kita dalam menjembatani perbaikan hubungan mertua dan menantu. Karena pada hakikatnya baik dan buruknya mertua bagaimanapun adalah orang tua pasangan kita. Dan sampai kapanpun akan tetap menjadi orang tuanya.

Kiki Barkiah

Kiki Barkiah, alumni teknik Elektro ITB yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Ibu yang menjadi homeschooler bagi kelima anaknya ini saat ini berdomisili di San Jose, California, USA. Kiki aktif diradiopengajian.com sebagai presenter dalam program “Ibu Indonesia Berbagi”. Beliau juga adalah ketua Yayasan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika & Komunitas Homeschooling Al-Kindi

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Bolehkah Wanita Memakai Celana Panjang

Assalamualaikum wr.wb pak ustadz, saya seorang muslimah dan kebetulan sudah berjilbab. masalah yang ingin tanyakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *