Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Menuntut Ilmu Dalam Keberkahan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Menuntut Ilmu Dalam Keberkahan

Oleh : Ustadz Abdul Atieq Syarifuddin, Lc.

Pada dasarnya, menuntut ilmu adalah suatu hal yang mulia bagi seorang muslim. Terlebih jika ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu agama. Yang diharapkan akan menjadi cahaya penerang bagi jalan kehidupannya di dunia dan di akhirat kelak.

Niat yang tulus karena Allah Ta’ala saja, tidaklah cukup bagi seorang yang menuntut ilmu. Karena selain niat yang ikhlas karena Allah, adab yang mulia pun harus disandang oleh para pencari ilmu.

Adab atau tata krama disini tentunya bukan lagi berbicara tentang adab seorang pencari ilmu kepada Allah Ta’ala, tetapi adab seorang murid pada gurunya yang telah membimbing dan mengucurkan ilmu pada dirinya, dan inilah kunci keberkahan sebuah ilmu. Karena keberkahan sebuah ilmu terlahir dari paduan antara keikhlasan sebuah niat dan akhlak seorang murid terhadap gurunya.

Berikut adab-adab menuntut ilmu yang harus diperhatikan :

  1. Berbaik sangka pada guru. Dan pastikanlah bahwa guru yang menjadi pembina dan pemberi ilmu kita adalah orang yang memiliki kebaikan akhlak dan keluhuran agamanya.
    Ibnu Sirin -Rahimahullah- pernah berkata : “Ilmu ini adalah agama, maka hendaklah engkau lihat dahulu dari siapa engkau ambil agama itu!”.
  2. Hendaklah menjadikan ridha sang guru sebagai tujuan utamanya, meskipun hal itu bertentangan dengan pendapat pribadinya. Karena hal itu bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah melalui ridha gurunya.
  3. Pandanglah wajah sang guru dengan pandangan penuh rasa hormat. Meskipun ia lebih muda usianya, atau nasabnya yang lebih rendah serta kekayaan yang tidak sama. Karena mereka termuliakan oleh Allah Taala sebab ilmu bukan yang lainnya.
  4. Jangan pernah memasuki ruangannya tanpa seizin sang guru, kalaupun ingin bertemu dengannya secara berjamaah, dahulukan murid yang paling baik perangai dan tutur katanya.
  5. Jangan pernah memanggil sang guru dengan panggilan lawan bicara sebaya, seperti ; anda, kamu atau kau. Tetapi gunakan panggilan yang sopan dan menunjukkan kedudukan yang mulia bagi sang guru.
  6. Bersabarlah dengan sikap tegas sang guru. Terkadang ketegasan sang guru menyimpan banyak kebaikan yang tidak diketahui muridnya saat itu , tetapi akan disadari di kemudian hari.
  7. Bersabarlah jika sang guru bersikap dingin (cuek) atau berlaku yang tidak mengenakkan pada muridnya, karena hal itu adalah bagian dari ujiannya untuk tetap bertahan menuntut ilmu dari sang guru. Merendahlah dihadapannya, karena merendahnya kita dihadapan orang berilmu adalah sebuah kemuliaan.
Di sisi berikutnya kita akan melihat potret adab para salafus shalih yang amat sangat tinggi di kala mereka tengah menuntut ilmu dan ketika berhadapan dengan para gurunya. Bahkan sangat menohok kita yang hidup di jaman ini, yang ternyata telah jauh dari keindahan adab seorang pencari ilmu.
  • Dari riwayat Muhammad bin Amru dari Abi salamah dikisahkan bahwa Ibnu Abbas – Radhiyallahu Anhu- dikala menuntut ilmu kepada Zaid bin Tsabit –Radhiyallahu Anhu- senantiasa mengambil tali tunggangan gurunya dan kemudian menuntunnya. Hingga Zaid bin Tsabit pun berujar : “Biarkanlah wahai putra paman Rasulullah”. Ibnu Abbas pun menolaknya, seraya berkata: “Seperti inilah kami memperlakukan ulama-ulama kami”.
  • Al Imam Al Syafi’e berujar dikala dirinya menjadi murid Al Imam Malik bin Anas Rahimahumullah ; “Dikala aku menggeser lembaran kertas yang ada ditanganku, aku lakukan dengan sedemikian pelannya, sebagai rasa hormatku pada sang guru, agar ia tidak terganggu dengan bunyi kertas yang kugeser”.
    Sementara itu, Al Rabi’e, salah satu murid Al Imam Al Syafi’e berkata : “Sungguh aku tidak pernah berani meneguk seteguk air dikala guruku (Al-Syafi’e) berada dihadapanku dan ia memandang ke arahku, karena rasa hormatku pada sang guru”.
  • Imam Ahmad bin Hanbal pernah berujar pada gurunya, Khalaf bin Al-Ahmar Rahimahumullah : “Sungguh aku tidak pernah duduk bersimpuh kecuali dihadapanmu, karena kami diperintahkan untuk bertawadhu’ pada orang yang mengajarkan ilmunya pada kami”.
  • Imam AlGhazali berkata : “ilmu tidak akan dapat diraih selagi pencari ilmu itu tidak bersikap tawadhu dan tidak menjadi pendengar yang baik bagi gurunya”.

Semoga kita termasuk pencari ilmu yang dianugerahkan niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu dan budi pekerti yang luhur sebagai kunci keberkahan ilmu yang kita dapatkan. Allahu A’lam Bishshowaab.

(Manhajuna/GAA)

 

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Indikasi Sukses Ramadhan

Oleh: Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA Manhajuna.com – Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *