Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Muslimah / Penerimaan yang Apa Adanya
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Penerimaan yang Apa Adanya

Oleh: Ummu Aafiya

Rasulullaah SAW pernah menegur Ummu Fadhl ketika merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Rasulullaah. “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air,” kata Rasulullaah SAW,

“tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”

Anak-anak yang baik; anak-anak yang bersih imannya dan hidup pikirannya tidak akan pernah lahir dari sikap kita yang keras dan tidak memberi mereka ruang untuk mencoba. Mereka tidak akan berani berinisiatif, apalagi menghadapi tantangan, apabila tidak ada rasa aman. Mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia kerdil meski tubuhnya besar, kalau mereka tidak memperoleh penerimaan yang tulus (genuine acceptance). Hanya anak-anak yang memperoleh penerimaan tanpa syarat dari orang tualah yang dapat menerima dirinya sendiri (self acceptance). Sehebat apapun anak kita, kalau tidak memiliki penerimaan diri yang baik, sense of competence mereka akan mati.

rumahtangga

Secara sederhana, sense of competence adalah kesadaran dan penerimaan bahwa ia memiliki keunggulan. Ia memiliki kemampuan yang layak dimunculkan dan dikembangkan, betapapun tampaknya sangat sederhana. Betapa banyak orang yang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak dapat berkembang secara optimal karena ia tidak memiliki sense of competence. Betapa banyak orang yang merasa hidupnya tidak berarti karena merasa bahwa ia tidak memiliki apa-apa yang layak ditampilkan dan disyukuri. Padahal banyak orang berdecak kagum dengan kemampuannya. Ini semua terjadi karena ia tidak memiliki sense of competence yang lahir dari ketiadaan penerimaan diri.

Penerimaan diri meliputi penerimaan secara tulus keadaan dirinya, baik kekurangan maupun kelebihan. Bukan sekedar mengetahui (knowing) atau merasakan (feeling) kekurangan atau kelebihan itu yang menyebabkan ia cenderung menutup-nutupi, merasa tak mampu (feeling bad, feeling incapable), merasa minder dan tidak berharga, melainkan menyadari (awareness) akan kelebihan dan kekurangan yang ia miliki. Dengan adanya awareness, ia akan lebih mudah bersyukur atas kelebihan yang Allah anugrahkan. Ia juga menjadi lebih mampu untuk memuliakan Allah dan menyadari kedudukan sebagai hamba-Nya, sekaligus menjadi tiang penyangga untuk mengamalkan ilmu maupun kelebihan untuk mendatangkan kemashlatan bagi umat.

http://cdn.aquariuslearning.co.id/wp-content/uploads/2015/08/i-love-myself-header.jpg?3d3efa

Suatu ketika Rasulullaah mengatakan kepada sahabat,“Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”
“Bagaimana cara membantu berbakti ya Rasulullah?” Para sahabat bertanya.
“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya serta tidak pula memakinya.”

Rasulullaah memberikan 4 kunci bagi para orang tua untuk membantu anaknya dalam hal berbakti kepadanya.

1. MENERIMA YANG SEDIKIT DARI ANAK.

Terimalah yang sedikit dari anak, maka setiap anak akan menjadi istimewa di mata kita. Kelebihannya yang sedikit akan tampak berharga di mata kita, sehingga kita bersemangat menyebutnya, memupuknya dan mengembangkannya. Kita menghargai setiap kebaikan dan keunggulan anak sekecil apapun, sehingga yang kecil itu menjadi besar. Anak kita boleh jadi tidak sehebat anak-anak tetangga kita. Tetapi manakala kehebatan yang sedikit itu kita dukung dan kita terima dengan hangat, maka akan berubah menjadi kekuatan yang dahsyat. Sebanyak apapun kelebihan anak kita, tapi tak mampu menjadikannya merasa berharga bila kita menuntut melebihi apa yang ia sanggupi. Karenanya, terimalah yang sedikit dari anak. In syaa Allah kita akan melihat betapa besar keagungan yang diberikan Allah kepada kita dan anak-anak kita.

2. MAAFKANLAH YANG MENYULITKANNYA.

Maafkanlah yang menyulitkannya maka dada kita akan lebih terasa lapang menghadapi mereka. Kita lebih mampu menerima mereka apa adanya. Ini merupakan bekal yang berharga karena acapkali beserta kehebatan yang besar, ada kesulitan yang mengawali. Seperti yang pernah dituturkan oleh Rasulullaah, “Al-Uramah akan menambah kecerasannya di masa dewasa.” Al uramah menunjukkan kondisi anak yang sangat aktif bahkan mendekati agresif, penuh gerak, selalu ingin mencoba; dan sebagai imbasnya rumah kita barangkali tak pernah bisa rapi. Sebentar kita bersihkan, sesaat berikut sudah kembali seperti rumah tak terurus. Penuh coretan crayon dan spidol atau apa saja. Kalau hati kita tidak cukup jernih, suara kita akan segera meninggi. Mata pun melototi anak sehingga kreatifitas dan inovasinya bisa mati.

http://media.abatasa.com/dirmember/00003/mhmgatsu/blog/maafkan-aku-bunda-maafkan-aku-ya-allah-.jpg

3. JANGAN MEMBEBANI ANAK

Jangan membebani anak maka kita akan melihat perkembangan anak-anak kita yang menakjubkan. Sehebat apapun anak kita, kalau terlalu banyak menanggung beban ambisi kita, akan membuat potensi mereka kerdil dan tak mampu berkembang dengan baik. Sesungguhnya dengan memberi beban prestasi, kita akan sulit menghargai prestasinya setulus hati. Setiap kali ia melakukan kebaikan atau keberhasilan, kita masih belum berlapang dada menerimanya, “Ya ini memang bagus. Tapi Bunda mau kamu lebih bagus.” Ini akan menjadikan anak merasa tidak memiliki kompetensi, citra dirinya kurang baik dan penerimaannya tidak penuh. Sungguh berbeda antara membebani dengan menyemangati.

4. JANGAN MEMAKI ANAK.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cacian akan belajar untuk rendah diri, bukan rendah hati. Sedangkan anak yang dibesarkan dengan hinaan, akan belajar menyesali diri. Bukan menyesal karena melakukan kesalahan yang mengantarkannya pada perbaikan, melainkan menyesap karena tidak memiliki penerimaan diri yang baik. Anak yang sering dicaci maki juga akan belajar mengobarkan permusuhan di dalam dadanya, sehingga sulit baginya untuk menumbuhkan persahabatan yang hangat atau penghormatan yang tulus bahkan kepada kedua orang tua mereka.

Mendidik anak letaknya di hati. Ya letaknya di hati! Selain kita harus terus mencari ilmu agar dapat mendidik anak-anak kita dengan baik dan tepat, kita juga perlu belajar menata hati dan membenahi tujuan. Berilmu saja tidak cukup. Kita mesti memiliki kekuatan hati untuk bisa ikhlas menerima mereka, kerewelan mereka, celoteh mereka dan pertanyaan-pertanyaan mereka yang tak henti mengalir bahkan di saat kita tak ingin diganggu oleh suara dentingan handphone sekalipun. Tanpa ada kekuatan hati, ilmu yang kita miliki tak banyak memberi arti.

https://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xap1/t51.2885-15/s320x320/e15/1388868_881595775264854_691608428_n.jpg

Tentu saja segala sesuatu butuh waktu. Apalagi jika kita dibesarkan dalam suasana pendidikan keluarga yang kering tak bersahabat. Butuh kemauan yang lebih besar agar dapat menghadapi anak-anak dengan lebih lembut dan bijak. Semoga kita menjadi orang tua yang terus belajar menimba ilmu dan juga menata hati dan menyediakan keluasan hati dan penerimaan yang tulus dalam membesarkan anak-anak kita.

*) Disadur dari buku “Saat Berharga untuk Anak Kita”, karya Mohammad Fauzil Adhim, Pro-U media, 2014.

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Bolehkah Wanita Memakai Celana Panjang

Assalamualaikum wr.wb pak ustadz, saya seorang muslimah dan kebetulan sudah berjilbab. masalah yang ingin tanyakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *