Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Tahun Baru = Tahun Pembaruan Iman !
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Tahun Baru = Tahun Pembaruan Iman !

Oleh: Ustadz Mudzoffar Jufri, MA

Manhajuna.com – Kita sedang berada di penghujung tahun 2015 M. dan segera memasuki tahun baru 2016 M. Bagaimana seharusnya seorang muslim atau keluarga muslim secara khusus dan umat Islam secara umum menyikapi fenomena pergantian tahun seperti ini? Berikut beberapa catatan yang perlu diingat dan diperhatikan:

Pertama: Mari memanfaatkan fenomena pergantian waktu : siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun dan seterusnya, yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, untuk melakukan hal-hal yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, seperti dengan banyak ber-tafakkur dan berdzikir mengingat muraqabatullah (pengawasan Allah) terhadap segala prilaku kita dalam hidup ini.  Dan bukan justru untuk merayakannya dengan cara-cara yang berlebih-lebihan, penuh kesia-siaan, apalagi penuh dengan aksi “demonstrasi” dosa dan kemaksiatan, yang semakin membuat kita lupa, lalai dan menjauh dari Allah Dzat Pemilik waktu dan Pengatur pergantiannya.

 “ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran/kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.“ (QS. Ali Imran [3] : 190).

Dan seluruh bentuk hura-hura penyambutan tahun baru masehi, disamping adalah sikap meniru-niru kebiasaan buruk dan budaya negatif  kaum serta umat lain, yang terlarang di dalam ajaran Islam, karena akan menghapus identitas keislaman ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau setidaknya memburamkannya.

“Barangsiapa yang meniru-niru/menyerupai suatu kaum (dalam hal-hal yang tak dibenarkan), maka berarti ia telah menjadi bagian dari kaum itu.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Disamping itu juga minimal merupakan tindakan sia-sia yang tidak penting dan tidak bermanfaat, yang menjadi indikasi rendahnya level keislaman ummat muslim yang melakukannya.

“Diantara tanda/bukti baiknya tingkat keberisalam seseorang, adalah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan lain-lain).

Kedua: Setiap orang Islam, dalam segala kondisi, situasi dan waktu, wajib senantiasa dengan bangga mempertahankan identitas keimanannya dan menunjukkan jati diri keislamannya. Oleh karenanya, hendaklah setiap keluarga muslim waspada dengan menjaga anggotanya agar tidak terbawa arus budaya jahiliyah dalam merayakan  momen pergantian tahun masehi dan menyambut tahun baru seperti sekarang ini. Karena itu semua hanya akan menggerus akidah, melunturkan keimanan dan mengikis identitas keislaman.

“Dan jika mereka berpaling, maka katakanlah (dengan bangga) kepada mereka : “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Islam (yang berserah diri kepada Allah)”. (QS. Ali Imran : 64)

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata  (dengan bangga): “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Islam (yang berserah diri)?” (QS. Fushshilat : 33)

Ketiga: Berdasarkan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada contoh aktifitas atau praktik amalan tertentu dalam menyambut pergantian tahun, baik tahun hijriyah apalagi tahun miladiyah (masehi). Namun tidak ada salahnya,  jika momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat ritual khusus, seperti untuk dijadikan sebagai terminal pengambilanibrah dan pelajaran darinya, disamping dimanfaatksn untuk ber-muhasabah dan berinstropeksi diri. Karena setiap muslim harus selalu melakukan muhasabah diri, disamping setiap saat, juga yang bersifat harian, pekanan, bulanan, tahunan dan seterusnya. Umar bin Al Khatthab radhiyallahu ’anhu berkata:

”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah)”, Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah “. (QS Al-Haaqqah : 18).

Keempat: Pergantian tahun juga bisa dijadikan momen penting merenungkan apa-apa yang telah berlalu dalam hidup kita selama setahun ini. Tunjuannya minimal tiga: disatu sisi untuk kita syukuri, disisi lain untuk kita istighfari, dan disisi yang lainnya lagi untuk kita ambil ibrah dan pelajaran darinya bagi masa depan kita yang lebih baik.

Ya, terhadap segala hal baik, positif dan konstruktif, serta beragam kenikmatan tak terhingga yang telah kita terima dan reguk dalam hidup selama setahun berlalu ini, semua itu wajib kita sykuri. Disertai harapan semoga Allah Ta’ala mempertahankannya dan bahkan menambah serta meningkatkannya bagi kita.

Sedangkan untuk segala hal buruk, negatif, destruktif, dosa dan kemaksiatan yang juga tak terhitung dalam kurun usia setahun yang lalu ini, maka kita wajib bertobat darinya dengan taubatan nashuha dan beristighfar atasnya dengan istighfar yang sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya. Disertai harapan semoga Allah Ta’ala menutup tahun ini bagi kita semua dengan penerimaan yang baik terhadap tobat dan istighfar kita, serta membuka lembaran tahun baru dengan taufiq perubahan dan perbaikan diri. Aamiin!

Adapun terhadap semua kondisi yang kita terima, hadapi dan alami, selama setahun berlalu ini, dan juga sebelumnya, yang merupakan dinamika hidup berupa: sukses dan gagal, untung dan rugi, sehat dan sakit, naik dan turun, diatas dan dibawah, bangun dan jatuh, dan seterusnya, maka mari kita bijak dan tepat dalam mengambil ibrah dan pelajaran sebanyak-banyaknya dari semuanya, untuk kepentingan dan kemaslahatan hidup kita di masa mendatang yang lebih baik, lebih positif, lebih konstruktif dan lebih gemilang!

Kelima: Khusus untuk kaum muslimin yang sengaja melangkahkan kakinya keluar rumah tepat di malam tahun baru ini, baik yang berada di jalan-jalan raya atau di tempat manapun lainnya, dengan niat dan tujuan untuk turut berhura-hura secara sia-sia, berpersta pora secara tanpa makna, bahkan juga untuk berbuat maksiat dan dosa yang membawa petaka dan nestapa. Ya, untuk semua saudaraku yang bersusah payah begadang dan sengaja ingin melibatkan diri menjadi bagian dari “saksi-saksi palsu” atas pergantian tahun, silakan merenung dan bertanya pada diri sendiri: Untuk apa semua ini aku lakukan? Itukah cara tepat untuk mengekspresikan rasa syukurku atas segala nikmat yang telah kuterima, dan yang akan mendekatkan diriku kepada Allah Sang Penganugerah-nya? Begitukah model dan gayaku dalam menunjukkan tobat dan istighfarku atas segala dosa selama setahun lalu, yang dengannya aku berharap Tuhan-ku akan menerima tobatku dan mengampuniku? Ya, silahkan masing-masing merenung dan bertanya kepada diri sendiri!

Adapun bagi para keluarga muslim yang tengah menghabiskan waktu akhir tahun dengan berlibur bersama keluarga, maka insya-allah itu positif-positif saja. Tentu dengan syarat harus diisi dengan segala hal dan aktifitas yang serba positif, konstruktif, baik dan bermanfaat, minimal yang mubah-mubah asalkan tidak sampai berlebihan!        

Keenam: Dengan berakhirnya tahun 2015 dan hadirnya tahun baru 2016, berarti telah bertambah satu tahun lagi dalam usia masing-masing kita. Dan sebagai kaum beriman, itu harus kita pahami dan sikapi sebagai bertambah banyaknya nikmat umur dalam hidup yang yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah di akherat.

“ Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba dari pengadilan Allah dihari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa, tentang ilmu pengetahuannya, apa yang telah diamalkan darinya, tentang hartanya dari mana  didapat dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang raganya, untuk apa digunakan “ (HR. At-Tirmidzi).

Disisi lain bertambahnya umur juga berarti berkurangnya waktu dan kesempatan kita untuk beramal dan berkarya di dunia ini, sebagai investasi dan bekal bagi kehidupan akherat nanti, dan juga berarti waktu kita menjemput kematian yang pasti datang dan kembali ke haribaan Allah, telah semakin pendek dan dekat. Dan perenungan serta muhasabahnya disini adalah: Sudahkan kita benar-benar siap untuk menghadapinya?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Ketujuh: Akhirnya, mari berazam bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru 2016 M., sebagai tahun pembaruan iman, ilmu, amal, moral dan mentalitas yang lebih syar’i dan islami. Juga mari bertekad bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru ini, sebagai tahun perubahan positif dan konstruktif bagi diri masing-masing kita secara khusus, bagi keluarga kita, bagi masyarakat kita, bagi bangsa kita, dan lebih luas lagi bagi ummat kita dimanapun berada. Sehingga dengannya insya-allah bangsa kita akan tampil lebih terhormat dan bermartabat, serta ummat kita akan lebih eksis sebagai ummat yang berjaya! Semoga! Aamiin!

(Manhajuna/GAA)

(Visited 541 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

Manhajuna – Bulan rajab baru saja datang, dan berlalu tanpa terasa. Setelahnya adalah sya’ban, kemudian bulan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *