Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Antara Zawj (Pasangan) Dan Imra’ah (Wanita)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Antara Zawj (Pasangan) Dan Imra’ah (Wanita)

muslimah2Manhajuna – Dua kata diatas secara bahasa memiliki makna yang berbeda, tapi dia bisa menjadi memiliki arti yang sama jika disandarkan pada seorang pria. Baik itu nama seorang pria, kata ganti pria atau bahkan kata pria itu sendiri.

Dari sekian banyak keluarga yang ada dalam Al Quran, ternyata Allah begitu selektif dalam memilihkan kata-kata untuk masing-masing keluarga itu. Allah membedakan antara zawj dan imra’ah dalam penggunaanya, walaupun yang dimaksud adalah sama. Yaitu istri. Mari kita lihat dari beberapa point berikut.

1. Allah tidak akan menyebutkan sebuah keluarga dengan zawj (pasangan) jika menurut Allah pasangan itu tidak ideal. Dan pasangan yang ideal adalah pasangan yang sekufu. Dalam surat At-tahrim Allah menyebut istri Nabi Nuh dan Nabi Luth dengan imra’ah. Allah ternyata enggan mensifati istri-istri mereka dengan zawj. Karena nabi Nuh dan Luth adalah orang yang sholeh, tapi bukan begitu dengan istri-istri mereka. Begitu juga sebaliknya, Allah juga tidak menyebutkan istri Fir’aun dengan zawj. Tapi dengan Imra’atu Fir’aun. Karena Asyiah adalah wanita yang ta’at, dan Fir’aun adalah lelaki bejat.

2. Ternyata sekufu pun belum cukup. Abu Lahab dan Istrinya adalah pasangan yang sekufu. Mereka sama-sama bukan orang baik. Tapi Allah masih menyebut istri Abu Lahab dengan Imra’ah (wamra’atuhu hammalatal hathob). Karena sekufu disisi Allah adalah sekufu dalam keimanan, dalam akhlaq dan ketha’atan.

3. Tapi bagaimana halnya dengan Nabi Zakariya? Dia adalah laki-laki yang sholeh, istrinya juga sholehah. Tapi kenapa dia termotifasi untuk memiliki keturunan tatkala melihat kesholehan Maryam, Allah masih saja menyebut istri beliau dengan imra’ah (wamra’ati ‘aqir). Ternyata sebuah pasangan yang ideal menurut Allah tidak cukup dengan sama-sama sholeh. Tapi juga memiliki keturunan yang sholeh, Allah baru menyifati istri Nabi Zakariya dengan zawj dalam surat al anbiya, tatkala telah Allah karuniakan kepada mereka Yahya. Wawahabna lahu Yahya wa ashlahnaa lahu zawjah (Dan Kami karunikan kepadanya Yahya dan kami berikan kemaslahtan buat istrinya).

4. Suami yang sholeh, istri yang sholehah, kemudian keturunan yang sholeh adalah pasangan yang ideal menuurut Allah. Tapi kenapa tetap saja Allah menyebut istrinya Imran dengan imra’ah? (wa qaalatimra’tu imran rabbi inni nadzartu laka). Imran adalah laki-laki yang sholeh. Istrinya juga sholehah. Anaknya apalagi, Maryam wanita paling suci. Namun Allah masih menyebut istri Imran dengan imra’ah?. Allah ternyata tetap saja tidak menyebut mereka dengan pasangan ideal, karena salah satu dari mereka sudah tiada. Imran Allah takdirkan meninggal dunia sebelum Maryam dilahirkan.

5. Allah baru menyifati istri-istri Rasullah dengan zawj. Yaayyuhannabiyu qul liazwajika. Wahai Nabi, katakanlah pada istri-istrimu. Rasulullah adalah pria yang paling baik, istri-istri beliau juga adalah wanita yang baik, dan beliau Allah anugrahkan anak-anak sholeh ketika beliau masih hidup.

Ternyata zawj adalah harga yang mahal menurut Allah. Tatkala mungkin di dunia belum mendapati suami atau istri dan anak-anak yang sholeh. Allah ganti mereka semua di surga dengan pasangan-pasangan yang masih suci. Wa azwaajum muthahharoh. Sebagian ulama mensifati ayat ini dengan keumumannya. Mencakup pria dan wanita. Bukan hanya laki-laki yang akan mendapatkan pasangan di surga. Tatkala seorang wanita di dunia belum mendapati pasangan yang sekufu baginya di dunia, maka akan Allah ganti dengan pasangan yang suci ketika nanti di surga.

Sumber: (vb.tafsir.net/ahlalhdeeth.com)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Yang Pemalu dan Terjaga

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, MA dan Istri Beliau (Ustadzah Shofiya Aulia). Dari Abu Hurairah RA, …

2 Komentar

  1. Bondan Setiawan

    Pada artikel disimpulkan istilah zawj itu adalah sandangan mulia.

    Tapi pada surat Al-Mumtahanah:11 kata zawj digunakan untuk isteri2 mukminin yg kembali ke kaum kafir Mekkah, sepertinya kontradiksi.

    Poin 3-4 di atas mengatakan syarat zawj harus hidup pada ketika berketurunan yg shalih, tapi poin 5 kata zawj digunakan kepada Aisyah RA isteri Nabi SAW yg tidak mempunyai anak, lalu di surat Al-Ahzab:37 kata zawj digunakan merujuk kepada Zainab yang akan diceraikan Zaid bin Haritsah, padahal saat itu antara mereka belum ada keturunan.

    Bagaimana menjelaskan kontradiksi ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *