Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Aqidah & Pemikiran / Macam-Macam Tauhid (3): Tauhid Uluhiyah
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Macam-Macam Tauhid (3): Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah, mengetahui serta mengakui bahwasannya Allah azza wa jalla pemilik hak uluhiyah dan peribadatan atas seluruh makhluk -Nya, dan mengesakan Allah ta’ala dengan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untuk -Nya semata[1].

Dan jenis tauhid ini bisa terleasisasi dengan melakukan peribadatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menjadikan sekutu bagi -Nya, dan mencintai -Nya, merasa takut kepada -Nya, berharap, dan bertawakal kepada -Nya, takut akan siksa -Nya, penuh harap pada -Nya, dengan mengesakan itu semua pada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Mendekatkan diri kepada -Nya dengan seluruh jenis peribadatan mahdah maupun harta dan benda, dan lain sebagainya dari jenis dan ragam ibadah yang para makhluk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, tentunya harus sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan serta dijelaskan oleh Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada mereka.

Tauhid Uluhiyah, mengetahui serta mengakui bahwasannya Allah azza wa jalla pemilik hak uluhiyah dan peribadatan atas seluruh makhluk -Nya, dan mengesakan Allah ta’ala dengan ibadah dan mengikhlaskan agama hanya untuk -Nya semata.

Dan jenis tauhid ini merupakan perkara prioritas yang diemban oleh tugas-tugas kerasulan yang harus disampaikan pada umatnya, dan dengan sebab ini pula terjadilah perdebatan, dan di syari’atkan jihad, dengan sebab ini manusia dan jin diciptakan, diturunkan kitab, di utusnya para rasul, dan dengan sebab tauhid ini pula manusia terkelompok menjadi golongan yang celaka dan golongan yang berbahagia, serta diciptakannya surga dan neraka.

Dan Allah ta’ala telah menjelaskan tauhid ini didalam banyak ayat yang bertebaran didalam al-Qur’an yang mulia. Diantaranya ialah:

  1. Sebagaimana terkandung didalam surat al-Kafirun. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS al-Kafirun: 1-6).

  1. Dalam surat Yunus, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:

“Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya Termasuk orang-orang yang beriman”. (QS Yunus: 104).

 Demikian pula didalam surat al-Imraan, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:

“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun”. (QS al-Imraan: 64).

  1. Dan dalam surat Yunus, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebutkan:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin -Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS Yunus: 3).

  1. Begitu juga dalam surat al-Mukminun, Allah ta’ala berfirman:

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya”. (QS al-Mukminuun: 32).

  1. Demikian pula dalam surat al-A’raaf, Allah ta’ala menyebutkan:

“Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?”. (QS al-A’raaf: 70).

  1. Dan dalam surat Yusuf, Allah ta’ala menyebutkan:

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”. (QS Yusuf: 40).

  1. Dan dalam surat Maryam, Allah ta’ala berfirman:

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada -Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”. (QS Maryam: 65).

  1. Demikian pula dalam surat al-Israa’, Allah ta’ala menyebutkan:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baikpada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS al-Israa’: 23).

  1. Dan Allah ta’ala menyebutkan ketika menceritakan tentang ucapan seluruh para nabi terhadap kaumnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

“Lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain -Nya”. (QS al-A’raaf: 59, 65, 73, 85).

Dengan ini menjadi jelas akan batilnya persangkaan sebagian ahli kalam yang menyatakan bahwa puncak ketauhidan adalah ketika menyatakan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah esa di dalam Dzatnya yang tidak memiliki bagian untuk -Nya, demikian pula esa dalam sifat-sifat -Nya yang tidak ada sesuatupun yang menyerupai -Nya, esa dalam perbuatan -Nya yang tidak ada sekutu bagi -Nya.

Sebab tauhid yang dengannya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan kitab dan mengutus para utusan bukanlah yang dimaksud dalam tiga hal diatas tadi, walaupun ketiga hal tersebut termasuk dalam kategori tauhid yang dibawa oleh para rasul, sehingga barangsiapa yang beribadah kepada -Nya semata tanpa menyekutukan sesuatu apapun dengan -Nya maka dirinya telah bertauhid, dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka dirinya dinamakan musyrik. Bukan orang yang bertauhid lagi ikhlas didalam menjalan agamanya, walaupun dirinya mengucapkan statmen-statmen diatas tadi yang mereka sangka termasuk ketauhidan yang sempurna [2].

Catatan Kaki:

[1] Madarijus Salikin Ibnu Qoyim 3/510. Ijtima’ Juyusy 93. Qaulus Sadid Ibnu Sa’di hal: 14. al-Kasyaaful Jaliyyah Syaikh Abdul Aziz Salman hal: 418. Syarh Fiqh Akbar Ali Qori hal: 19. Quratu Uyuun Muwahidin Syaikh Abdurahman bin Hasan hal: 15-16. Taisir Azizil Hamid Syaikh Sulaiman bin Abdillah, Fathul Majid Syaikh Abdurahman bin Hasan hal: 17-18. Taudhihul Kaafiyah asy-Syaafiyyah Ibnu Sa’di hal: 134. Majmu’ Fatawa Syaikh Abdul Aziz bin Baz 1/15.
[2] Lihat penjelasannya dalam Bayan Talbisul Jahmiyah oleh Ibnu Taimiyah 1/478.

Baca Juga:

Macam-Macam Tauhid (1): Tauhid Rububiyah

Macam-Macam Tauhid (2): Tauhid Asma wa Shifat

Sumber: Macam-macam Tauhid أنوع التوحيد, Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, Penerjemah: Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad, IslamHouse.com

 

(Manhajuna/IAN)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

hajj_labbaik

Talbiyah…Deklarasi Penghambaan dan Kepasrahan Seorang Muslim

Oleh: Ustadz Abdullah Haidir, Lc. Dalam pelaksanaan haji, saat ihram khususnya, tidak ada untaian kalimat …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *