Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Alquran / Menguji Predikat Taqwa dan Juara
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Menguji Predikat Taqwa dan Juara

Oleh : Abu Kautsar

Rasulullah saw pernah menegur Abu Bakar Assidiq yang menghardik dua orang budak yang sedang bergembira menabuh rebana di hari raya

فقالَ أبو بَكرٍ أبمزمورِ الشَّيطانِ في بيتِ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ وذلِكَ في يومِ عيدِ الفطرِ فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ يا أبا بَكرٍ إنَّ لِكلِّ قومٍ عيدًا وَهذا عيدُنا

Berkata Abu Bakar, “Apakah kalian menghidupkan Suara syaithan di rumah Rasulullah saw? Hari tersebut adalah Iedul fitri, kemudian Rasulullah saw bersabda,” ya Abu Bakar sesungguhnya dalam setiap kaum punya hari raya dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Muslim)

Ramadhan sudah pergi meninggalkan kita, seiring matahari terbenam ke ufuk barat semua orang beriman sedih meratapi kepergiannya sementara para pemuja hawa nafsu bergembira dengan kepergian Ramadhan sehingga ada ulama yang mengatakan, “Tidak ada Iedul fitri bagi siapa yang tidak menjalankan kewajiban puasa Ramadhan”.

Iedul fitri hanya diperuntukan mereka yang menjalankan kewajiban puasa sehingga Islam agama yang sempurna memberikan hari kegembiraan, memenuhi fitrah manusia namun kegembiraan yang selalu dalam koridor ketaqwaan dan keimanan.

Sesungguhnya hari raya adalah sudah ada sejak zaman jahiliyah, tapi setelah kedatangan Islam hari raya era jahiliyah tergantikan dengan dua hari raya, Iedul fitri dan Iedul Adha Rasululluah saw bersabda,

قدِمَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ المدينةَ ولَهم يومانِ يلعَبونَ فيهما فقالَ ما هذانِ اليومانِ قالوا كُنَّا نلعبُ فيهما في الجاهليَّةِ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ إنَ اللَّهَ قد أبدلَكم بِهِما خيرًا مِنهما يومَ الأضحى ويومَ الفطرِ

Datanglah Nabi Saw di Madinah dan melihat mereka dua hari bersenang-senang. Lalu Nabi saw bertanya kepada mereka, “ada apa dua hari ini”? Mereka menjawab, “Dulu kami selalu bersenang-senang dua hari pada masa jahiliyah.” Kemudian Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya yang lebih baik dengan hari Iedul Adha dan Iedul fitri.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban)

Kehadiran Islam bukan untuk menghapus secara totalitas kebiasaan atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan dan tradisi nenek moyang. Namun, Islam datang untuk menyempurnakan menjadi lebih beik sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebulan penuh kita berada dalam didikan dan arahan Ramadhan, amat banyak yang kita dapatkan dari bulan pendidikan yang bernama Ramadhan. Namun, seringkali muncul pertanyaan dan rasa penasaran kita, apa dan bagaimana parameter diterimanya ibadah selama Ramadhan? Banyak ulama menjawab diantara parameter diterimanya amal sesorang adalah dapat dilihat paska ritual ibadah tersebut apakah dia menjadi lebih soleh atau sebaliknya, seandainya dia menjadi lebih baik amalan dan ucapanya satu pertanda diterima amalanya.

Ramadhan hadir menjadikan kita hamba-hamba yang bertaqwa dan parameter taqwa dan juara, Allah swt terangkan dalam kitabNya secara jelas dan baku tidak berubah sampai hari kiamat. Parameter taqwa adalah

1 . Mereka yang selalu menjaga keimananya kepada hal yang goib. “Demikianlah kita yang tidak ada keraguan didalmnya dan petunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2-3)

2 . Pemaaf adalah sifat orang-orang bertaqwa. “Dan sesungguhnya pemaaf adalah lebih dekat kepada taqwa.” (QS : An -Nisai 237)

3. Di antara parameter taqwa adalah dia yang jujur dan benar ucapan dan amalnya. “Mereka adalah orang -orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

4 . Mengagungkan syiar Allah swt adalah satu sifat orang bertaqwa. “Demikianlah siapa yang mengagungkan syiar Allah maka sesungguhnya kataqwaan datang dari dalam hati.” (QS. Al- Hajj: 32)

5 . Bersikap adil adalah bagian dari taqwa. Allah swt berfirman, “Adilah sesungguhnya bersikap adil lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

6 . Taqwa adalah jalan para Nabi, orang-orang jujur dan soleh. “Wahai orang-orang beriman bertaqwalah dan jadilah bersama orang-orang jujur.” (QS. At- Taubah: 119)

7 . Menahan amarah adalah ujian terberat bagi pemegang predikat taqwa. “Dan menahan amarah.” (QS. Ali Imran: 133)

Allah swt telah menjelaskan standar taqwa dan juara secara detail. Maka siapa yang melekat sifat tersebut dalam dirinya berarti ia layak mendapat predikat juara. Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزاً عَظِيماً

Wahai orang-orang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang lurus, perbaiki bagi kalian amal-amal kalian, dan mintalah ampunlah dosa-dosa kalian, maka siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya akan menang dan mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Dan siapa yang meraih predikat taqwa adalah dia berhak meraih predikat pemenang “Minal Faizin“. Dan pemenang sejati diantaranya dia yang mau menjalankan puasa enam hari di bulan syawal.

كما قال بعضهم ” ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بحسنة بعدها ” كان ذلك علامة قبول الحسنة الأولى

“Sebagaimana pendapat sebagian ulama pahala kebaikan ada kebaikan setelahnya maka barang siapa beramal baik kemudian dibarengi dengan kebaikan setelahya pertanda diterima amal kebaikannya yang pertama”.

(Manhajuna/IAN)

(Visited 43 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Fiqih Kurban (3): Penyembelihan, Pemanfaatan dan Distribusi Daging Kurban

Pada kajian kali ini kita akan mebahas tentang perkara yang terkait dengan penyembelihan hewan kurban, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *