Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Menyongsong Masa Depan Milik Keluarga Muslim
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Menyongsong Masa Depan Milik Keluarga Muslim

Oleh: Ustadz Faris Jihady, Lc. MA. (*)

A. Landasan Berpikir

Allah Ta’ala Berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

[النساء: 9]

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ

[الحشر: 18]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Rasul saw bersabda: “sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci pembuka pintu-pintu kebaikan, dan penutup pintu-pintu keburukan. Ada juga di antara manusia yang menjadi pembuka pintu keburukan, dan penutup pintu kebaikan. Beruntunglah mereka yang Allah jadikan kunci kebaikan pada tangannya, dan celakalah orang dijadikan Allah kunci keburukan pada tangannya” (HR Ibn Majah dari Anas ibn Malik ra)

الأدب المفرد بالتعليقات – ص: 242
عن أنس بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إنْ قَامَت السَّاعةُ وَفِي يَد أَحَدِكُم فَسِيلةٌ فَإنْ استَطاعَ أنْ لَا تَقُومَ حَتى يَغرِسَهَا فَليَغِرسْهَا

Rasulullah saw bersabda; “jika tiba Hari Kiamat dan di tanganmu ada sebutir biji kurma, jika kamu masih ada kesempatan untuk menanamnya, maka tanamlah” (HR Bukhari dlm Al-Adab Al-Mufrad dari Anas bin Malik)

B. Pendahuluan

Umumnya manusia memiliki kecenderungan ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Ia ingin mengetahui bagaimana keadaannya di masa yang akan datang, termasuk orang-orang yang dicintainya; keluarga, anak-anak, dan dan semua pihak yang beradadalam lingkaran dirinya.

Kecenderungan ini melekat pada jiwa manusia agar dapat bersiap-bersiap menghadapi masa depan yang pasti tiba. Sebab itulah manusia ditakdirkan Allah memiliki naluri untuk bekerja, menabung, bercocoktanam. Dan semua upaya itu dilakukan berdasarkan kecenderungan manusia untuk selalu mengira-ngira dan memprediksi masa depan

Jika direnungkan lebih mendalam sesungguhnya ada satu sikap yang juga mendorong upaya ingin mengetahui masa depan; yaitu sikap kecemasan. Kekhawatiran dan kecemasan jika ada hal-hal yang buruk yang menimpa dirinya dan orang-orang terdekatnya. Ini merupakan sikap yang manusiawi

Kecenderungan manusiawi ini dibenarkan oleh Allah Ta’ala, sebab itu Allah SWT memerintahkan –secara syar’i- untuk bekerja, beramal, dan berbekal sebaik-baiknya, bahkan memberi pahala besar bagi siapa yang bekerja, beramal dan berbekal dengan hal yang terbaik.

Hanya saja meski syariat membenarkan sikap kekhawatiran yang manusiawi ini, syariat juga memberikan kerangka berpikir yang benar, tentang bagaimana seharusnya sikap khawatir itu? Terhadap apa semestinya kita khawatir? Bagaimana langkah kita sebagai orang-orang beriman bersikap terhadap kecemasan dan kekhwatiran tersebut?

Di antara cara syariat membimbing kita adalah mengarahkan kekhawatiran tersebut tidak semata khawatir tentang masa depan duniawi kita, namun juga kekhawatiran tentang akhirat. Demikian pula tidak semata tentang masa tua kita, atau generasi kita akan hidup layak atau tidak, tapi juga tentang kehidupan setelah kematian, tentang keimanan generasi yang akan datang. Sebab itulah kita ditanamkan untuk beriman kepada Hari Akhir, dan beriman kepada Qadha & Qadar.

C. Menyikapi kecemasan; antara sikap optimisme dan pesimisme

Penyikapan terhadap kecemasan tentang masa depan dapat bermacam-macam ekspresinya. Ada yang menyikapinya dengan optimisme, dan ada pula yang menyikapinya dengan pesimisme.

Sebagaimana disebutkan pada pendahuluan di atas, bahwa kecemasan ini berdasarkan pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa diri dan keluarga seseorang. Dalam konteks keluarga muslim, kecemasan ini berlatar pada kekhawatiran akan banyaknya potensi kesulitan, penderitaan, dan keburukan di masa kini.

Dalam konteks duniawi; kehidupan yang semakin sulit dalam berbagai aspeknya membuat keluarga muslim diliputi kecemasan. Misalnya; kesulitan ekonomi, ketimpangan sosial, kehilangan rasa aman.

Dalam konteks ukhrawi; interaksi dengan globalisasi membuat nilai-nilai syariat tergerus, tidak lagi ada pembatas dan sekat antar budaya, pemikiran, moralitas. Hal ini berefek pada kecemasan akan masa depan agama dan akhlak keluarga muslim.

Di antara efek negatif globalisasi di era milenial; tercampurnya standar nilai/moral dalam kehidupan keluarga muslim, berakibat pada kaburnya standar kebaikan dan keburukan. Belum lagi kabar-kabar tentang keadaan kaum muslimin secara global yang masih banyak dalam kondisi lemah, terzalimi dan terintimidasi

Semua hal tersebut boleh jadi menyebabkan lahirnya sikap pesimisme terhadap situasi yang sedang berlangsung, terlebih situasi di masa depan.

Di saat yang sama, setiap keluarga muslim tentu menyadari bahkan dinamika zaman (dengan segala kebaikan dan keburukannya) adalah keniscayaan yang tak dapat dielakkan. Di samping pada saat yang sama menyadari bahwa kehidupan ini adalah ibitila’ (ujian).

Prof Dr Abdul Karim Bakkar –seorang ulama dan pemikir Suriah- dalam bukunya “Zaman Kita dan Kehidupannya yang Sulit” menjelaskan beberapa hal yang bisa jadi menyebabkan lahirnya sikap pesimisme atau bahkan keputus-asaan;

1. Berpindahnya kontrol terhadap kehidupan, dari tangan manusia kepada kekuasaan harta benda. Di mana di masa lalu kebutuhan manusia dapat dipenuhi sesuai yang ia kehendaki, secara merdeka sesuai yang ia perlukan, dan ia merasa cukup. Sedangkan di hari ini, manusia terpaksa untuk memenuhi kebutuhannya dengan jerih payah dan kesulitan. Hal ini memaksa manusia untuk menyesuaikan kehidupannya agar dapat memenuhi kebutuhannya.

2. Berubahnya standar nilai sosial kemasyarakatan dan gaya hidup, dari yang mulanya sederhana sekaligus baik, menjadi rumit dan bercampur antara baik dan buruk. Manusia agar dapat merasa diterima secara sosial, berupaya menyesuaikan dengan standar tersebut.

3. Hilangnya rasa aman dan ketenteraman, yang merupakan kebutuhan primer setiap orang

Pendapat lain tentang kemerosotan kaum Muslimin, dikemukakan oleh DR Majid Al-Kailani, -seorang pemikir muslim Yordania- bahwa pada dasarnya kehidupan manusia secara kolektif terdiri dari 3 unsur; pemikiran (nilai), manusia, dan benda.

Jika nilai menjadi poros bagi manusia dan benda, maka kehidupan akan sehat. Sedangkan jika manusia menjadi poros bagi nilai dan benda, maka kehidupan akan sakit. Dan jika benda menjadi poros bagi nilai dan manusia, maka kehidupan akan mati.

Sikap pesimisme sebagaimana tersebut di atas, mendapat pembenaran dari teks-teks syariat yang disalahpahami. Yang menyebabkan kaum muslimin –sebagai ekpresi pesimismenya- mencukupkan diri pada hal yang menyangkut keselamatan diri dan keluarganya saja, juga berpangku tangan terhadap hal-hal buruk yang terjadi di sekitarnya.

Di antara teks-teks syariat yang disalahpahami adalah teks-teks hadits tentang fitnah akhir zaman, yang secara sekilas jika tidak dipahami dengan baik akan melahirkan sikap apatis, bahkan pesimis dan negatif. Sebagaimana diketahui hadits-hadits tentang fitnah akhir zaman menggambarkan tantangan-tantangan di masa depan; kerusakan moral, pertumpahan darah, perselisihan, merebaknya riba dan sebagainya.

Di antara hadits yang disalahpahami adalah;

صحيح مسلم (1/ 130)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam itu bermula terasing, dan akan kembali terasing, beruntunglah orang-orang yang terasing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Hadits ini dipahami seakan seiring dengan datangnya fitnah akhir zaman, maka sebaiknya mesti mengasingkan/memisahkan diri dari masyarakat, dan akhirnya berpangkutangan. Sikap ini merupakan sikap apatis dan pesimisme akibat salah memahami hadits. Padahal dalam riwayat lain Rasul saw juga menjelaskan siapakah ghuraba’ (orang-orang asing itu)

الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي

“mereka yang berupaya memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia” (HR Tirmidzi)
Atau:

” الَّذِينَ يَصْلُحُونَ حِينَ يَفْسُدُ النَّاسُ

“mereka yang tetap berbuat baik, meski manusia semakin rusak”

Sekilas di atas dapat dipahami bahwa fitnah akhir zaman merupakan keniscayaan yang pasti, ia adalah sunnah kauniyah yang sudah ditetapkan Allah, tapi Allah Ta’ala –melalui lisan RasulNya juga memuji mereka yang tetap berupaya melakukan perbaikan dan tidak berpangkutangan.

Di sisi lain hadits-hadits yang bercerita tentang akhir zaman mesti dipahami secara komprehensif bersamaan dengan teks-teks syariat lain dari Al-Qur’an dan Sunnah yang menanamkan optimisme di masa depan. Antara lain:

a. Allah Ta’ala berfirman:

{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ}

[التوبة: 33]

“Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq, untuk dimenangkan segala agama”

Allah juga berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

[النور: 55]

“Dan Allah telah berjanji kepada orang beriman dan beramal shaleh di antara kalian, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia sungguh akan mengubah keadaan mereka, setelah ketakutan menjadi rasa aman”

Rasululah saw bersabda;

صحيح مسلم (4/ 2215)

عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

“Allah telah melipat untukku bumi ini, timur dan baratnya, dan kekuasaan umatku akan sampai ke seluruh penjurunya” (HR Muslim dari Tsauban ra)

مسند أحمد مخرجا (28/ 154)
عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «[ص:155] لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ، عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ، وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ» وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ، يَقُولُ: «قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمُ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ، وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ»

Rasulullah saw bersabda;
“Sungguh, perkara (agama) ini pasti sampai sejauh sampainya pergantian siang dan malam. Dan Allah tidak meninggalkan satu rumahpun kecuali Allah pasti akan masukkan ia ke dalam agama ini, baik dengan kemuliaan atau pun dengan kehinaan. Kemuliaan berupa keislaman, dan kehinaan berupa kekufuran” (HR Ahmad dari Tamim Ad-Dari)

Mengambil pelajaran dari berbagai teks di atas, ia merepresentasikan gambaran yang lebih komprehensif tentang nubuwat (ramalan) Rasulullah saw tentang masa depan, yang menyeimbangkan antara berbagai fitnah, cobaan dan tantangan, di saat yang sama optimisme tentang masa depan yang gemilang, cerah dan menjanjikan.

Ini berarti bahwa setiap keluarga muslim mesti memahami, dan meyakini bahwa:

a. Allah Ta’ala telah menetapkan sunnatullah dalam kehidupan ini; ada pergantian dan pergiliran, ada saatnya melemah dan menguat, ada saatnya kalah dan menang, ada pergulatan hak dan batil.
b. Berdasarkan pemahaman terhadap sunnatullah di atas, berarti setiap keluarga wajib tidak boleh menjadi bagian dari orang yang hidup di “luar zaman” –meminjam istilah DR Abdul Karim Bakkar-, berpangku tangan, menyerah pada keadaan, apatis pada dinamika zaman, atau mengasingkan diri.
c. Pergulatan antara kebaikan dan keburukan pasti terjadi, dan Allah sudah menjanjikan kemenangan agama-Nya, tinggal apakah setiap muslim mau terlibat menjadi bagian dari orang-orang yang memihak pada kebaikan dan membela agama, atau cukup berpangkutangan.

Dalam rangka merealisasikan sikap optimisme menghadapi tantangan zaman, keluarga muslim perlu:

a. Menyadari pentingnya kedudukan keluarga sebagai unit terkecil dan benteng terakhir eksistensi tegaknya Islam. Kemaslahatan keluarga muslim akan berefek pada kemaslahatan Islam
b. Meletakkan seluruh aktivitas keluarga dalam kerangka tujuan besar;

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الأنعام: 162]

c. Tidak pernah berkompromi dalam perkara2 prinsip, dan tetap komitmen pada nilai-nilai pokok Islam apapun tekanan, godaan, dan tantangan yang terjadi.
d. Berupaya terus meningkatkan kualitas diri dan keluarga, dalam berbagai aspeknya. Agama, akhlak, keilmuan, keterampilan. Serta tidak pernah merasa ‘ujub dengan apa yang sudah dicapai.
e. Berupaya berprestasi meski dalam hal kecil, ini berarti; memiliki keyakinan atas keberhasilan dalam hidup, mencari peluang, mampu memikul beban, dan mengeluarkan jerih payah.

والله أعلم

(Manhajuna/IAN)

Ustadz Faris Jihady, Lc.

MA, Qur’an & Sunnah Studies, King Saud University, Riyadh Saudi Arabia.. Belajar, Berfikir, Merenung الذكر والفكر. FB: /faris.jihady.1 T: @farisjihady Blog: faris-jihady.blogspot.com
(Visited 51 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Ilustrasi Percintaan Terindah di Surga

Oleh: Ustadz Fir’adi Nasruddin, Lc » إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ , هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *