Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Kajian / Lima Hal yang Membantu Orang yang Ingin Mengoptimalkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Lima Hal yang Membantu Orang yang Ingin Mengoptimalkan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Oleh: Dr. Umar Al-Muqbil
Alih Bahasa: Kang Aher

1. Bebaskan diri dari sekelilingmu dan dari kekuatanmu. Demi Allah, hamba tidak akan mampu mengucapkan sekali tasbih, atau melakukan sekali rukuk, atau membaca satu ayat, kecuali atas bantuan dari Allah. Renungkan apa yang selalu engkau baca di setiap rekaat:

إياك نعبد وإياك نستعين

Hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.

Perbanyak ucapan:

لا حول ولا قوة إلا بالله

Tidak ada daya dan kekuatan melainkan karena bantuan dari Allah.

Sesungguhnya jika engkau diserahkan kepada daya dan kekuatanmu sendiri, maka engkau dipasrahkan kepada kelemahan dan ketidak berdayaan. Engkau harus memperbanyak doa berikut ini:

اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Ya Allah, bantulah aku untuk selalu menyebut-Mu, bersyukur kepada-Mu dan menunaikan sebaik-baik ibadah kepada-Mu.

Sebab, hal ini merupakan penyebab teragung untuk mendapatkan bantuan dan taufik dari Allah.

2. Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini, lakukanlah amalan laksana orang yang meyakini betul bahwa kesempatan ini merupakan Ramadhan terakhir baginya. Ia takkan jumpa lagi dengan Ramadhan berikutnya. Tentu ini benar. Karena usia itu di Tangan Allah. Jika engkau mengalami futur (stagnasi ketaatan) atau jiwamu mengajak betmalas-malasan, maka ingatkan bahwa satu JAM di malam lailatul qadr itu lebih baik dari amalan selama tiga ribu hari. Lebih baik dari delapan tahun. Satu DETIK saja lebih banyak nilainya ketimbang amalan selama 50 hari. Sungguh merugi orang yang terhalang mendapatkannya.

3. Jauhilah pertemuan-pertemuan yang melalaikan dan juga berbagai media komunikasi. Berusahalah agar kebanyakan waktu itu engkau gunakan untuk berkhalwat (menyendiri) bersama Rabbmu, apakah di masjid atau di rumah. Masing-masing lebih tahu akan dirinya dan lebih mengerti akan kejujuran niatnya. Siapa yang mampu iktikaf maka hal itu lebih baik. Bagi yang belum mampu, jangan sampai kehilangan kesempatan berkhalwat.

4. Variasikan ragam ibadah antara baca Al-Quran, shalat, berdoa, beristighfar, dzikir mutlak, dan memikirkan berbagai nikmat Allah. Variasi seperti ini lebih jitu untuk mengusir rasa malas dan jemu.

5. Jika engkau mendapatkan bantuan dari Rabbmu untuk menunaikan berbagai jenis ibadah tersebut, maka waspadalah jangan sampai muncul raja ujub (bangga diri), karena ia akan merusak amal. Sadarilah bahwa di muka bumi ini banyak hamba yang lebih giat ibadahnya dan lebih bertakwa ketimbang dirimu. Kesadaran ini akan mendorongmu untuk makin menambah amal ketaatan serta tidak tertipu oleh banyaknya ibadah yang telah engkau kerjakan.

Pelajaran penting adalah diterimanya amal di sisi Allah Ta’ala, bukan sekedar banyaknya amal dan variasinya.

(Manhajuna/IAN)

(Visited 73 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Lebaran dan Tradisi

Saat dahulu bekerja di Saudi, saya dan beberapa teman dai berbagai negara pernah diundang TV …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *