Hijri Calendar by Alhabib
Beranda / Hikmah / Pujian Adalah Ujian (Bag. 1)
>> Sponsorship/Donasi Website Manhajuna <<

Pujian Adalah Ujian (Bag. 1)

Orang-orang memujimu karena apa yang mereka sangka ada pada dirimu. Maka celalah dirimu karena apa yang engkau ketahui ada pada dirimu.

Yang mudah tersanjung mudah tersandung. Berhati-hatilah kepada pujian. Sikapilah dengan cermat setiap pujian yang datang kepadamu. Lihatlah selalu bahwa dirimu adalah orang yang senantiasa diselubungi kelemahan, kekurangan, aib, cela, dan sifat-sifat buruk. Dengan demikian, engkau tidak terperangkap dalam jebakan yang bisa membuatmu hancur. Kembalikanlah setiap pujian itu kepada pemiliknya. Sangkal semua pujian yang datang kepadamu. Sungguh, bila engkau senantiasa menyandarkan apa pun kepada-Nya maka engkau telah bersikap cerdas. Engkau selamat dari kemungkinan tergelincir oleh pujian yang menghanyutkan.

Ketika seorang mukmin dipuji, ia malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya.

Biarkanlah orang terpesona oleh warna pelangi kesadaranmu, asal engkau tetap melekat dengan langit-Nya! Setiap pujian yang datang kepadamu adalah sebab orang melihat warna-Nya tercermin padamu. Jadi, anggaplah itu sebagai cara mereka memuji-Nya melaluimu, bukan untukmu. Sebab, tidak ada pujian yang layak diberikan kepada selain-Nya. Atau perlakukanlah pujian orang kepadamu sebagai alat mengoreksi segala bentuk kelemahan, kekurangan, aib, cela, dan sifat burukmu. Dengan begitu, engkau akan senantiasa malu kepada-Nya sebab semua yang melekat kepadamu. Berharaplah pujian-Nya kepadamu, sebab hanya pujian-Nya yang bisa membuatmu tenteram. Jangan bersikap sok layak bila dosa atau kesalahanmu masih banyak!

Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang.

Jangan tersipu oleh sanjungan yang menipu! Engkaulah sesungguhnya yang paling tahu siapa dirimu. Engkaulah yang tahu persis kebaikan dan keburukan yang melekat dalam dirimu. Tentang seberapa banyak kebaikan yang telah engkau lakukan. Tentang seberapa rapat dirimu menyembunyikan berbagai keburukan. Mengapa kemudian engkau malah menikmati penilaian orang lain tentangmu? Mereka tidak mengenalmu, mereka tidak mengerti tentangmu. Mereka hanyalah melihat apa yang tersingkap dari dirimu. Mereka cuma menduga-duga dengan pujian yang mereka arahkan kepadamu. Jadi, kenapa engkau menjadi begitu bodoh, membiarkan orang lain memasuki wilayahmu sendiri? Apakah memang engkau lebih suka orang lain yang mengatur dirimu? Berpikirlah…

Jika engkau mendapat pujian sementara engkau tidak layak atasnya, pujilah Allah sebagai Zat yang memang layak menyandangnya.

Alihkan kepada-Nya agar semua pujian mengalir menuju-Nya! Jadikanlah pujian yang mengarah kepadamu doa agar terangkat kemuliaanmu. Dan jadikan pula pujian itu pengharapan atas pengampunan-Nya sebab dosa atau kesalahanmu. Anggaplah dirimu sungai yang dialiri pujian makhluk, tetapi arahkan aliran itu kepada muaranya, samudra pujian yang hanya jadi milik-Nya. Ini perilaku yang cemerlang, yang membuatmu akan terus nikmati cahaya benderang. Memang, kenyataannya tidak ada yang pantas menyandang sifat-sifat-Nya, sebab semua kebaikan kita pun hakikatnya adalah pantulan cahaya sifat-sifat-Nya.

Sumber: Al-Hikam, Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah, penerbit: Zaman.

(Manhajuna/IAN)

(Visited 20 times, 1 visits today)

Beri Komentar (via FB)

http://bursanurulfikri.com/

Lihat Juga:

Ketika Pendosa Berlimpah Harta

Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA. ((فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *